Jade
mengajakku melihat kedatangan siswa yang bernama Nathanael Millford dari salah
satu balkon lantai dua di gedung utama. Saat aku melihat ke halaman sekolah,
sudah berkumpul banyak murid disana. Melihat banyaknya murid di halaman,
mungkin bisa dibilang lebih dari separuh murid sekolah ada disana. Belum lagi
beberapa murid yang menunggu di balkon seperti kami.
“Jadi…
siapa Nathanael Millford ini?” tanyaku keheranan melihat pemandangan di
halaman.
“Kau
benar-benar tidak memperhatikan yang kuceritakan semalam!” tandas Jade.
“Maaf,”
Lalu
Jade melanjutkan, “Bisa dibilang, hampir tak seorang pun di sekolah ini yang
tidak mengenalnya, kecuali kau yang baru saja pindah. Itu karena beberapa
minggu sebelum kau pindah kesini dia mengalami kecelakaan parah hingga akhirnya
ia koma. Ia tersadar dua bulan yang lalu, sehari setelah pesta dansa akhir
tahun.”
Aku
menangkap nada sendu saat Jade menyinggung tentang kecelakaan yang menimpa
siswa bernama Nathanael Millford tersebut. “Lalu… mengapa kau disini? Bukankah kau
dekat dengan Aaron?”
Jade
tersenyum, “Aaron memang istimewa bagiku. Tapi aku disini karena Nathan adalah
sepupuku, ibu kami bersaudari. Selain itu, aku selalu mengagumi kemampuannya
sejak dulu,”
Melihatnya
tersenyum bangga saat bercerita mengenai pemuda bernama Nathan itu, aku pun
mengambil kesimpulan, “Jadi, kau ingin pamer padaku?”
Jade
tertawa riang. Aku pun ikut tersenyum.
“Ah!
Itu dia datang!”
Aku
mengalihkan pandangan ke halaman sekolah. Terlihat seorang pemuda mengenakan
setelah jas seragam sekolah dan sebuah top hat* di kepalanya melewati
gerbang utama. Ia berjalan menuju bangunan utama sekolah yang di depannya sudah
berkumpul para murid yang menyambut kedatangannya. Beberapa menyalaminya, beberapa
siswa menepuk-nepuk bahu juga punggungnya, dan hampir semuanya berbicara
bersamaan mengucapkan selamat datang kembali.
Aku
memandang pemuda itu dengan penasaran. Sejak melihatnya melewati gerbang utama,
aku merasa familier dengannya. Aku mengamatinya sambil berusaha mengingat-ingat
apa sebabnya. Namun, dari posisiku yang berada di balkon lantai dua dan karena topi
yang dikenakannya, membuatku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
“Jade!”
samar kudengar sebuah suara memanggil.
“Aaron!
Hai!”
“Sedang
apa kalian disini? Ikut menyambut?”
Aku
mengalihkan pandangan dari kerumunan di bawah. Kulihat Aaron berdiri di samping
Jade dan ikut melongokkan kepala ke bawah. Mereka berdua berbincang sambil
melihat keadaan di halaman. Saat aku kembali memandang ke halaman, kulihat
pemuda itu melepas topinya. Aku pun bisa melihat wajahnya. Kukerjapkan mata
beberapa kali, meragukan apa yang kulihat. Lalu pemuda itu memandang ke arah
balkon. Pandangan kami pun bertemu. Aku tak mempercayai apa yang kulihat.
“Apa
yang!??”
Kakiku
mudur selangkah. Kemudian aku memutar badan dan melangkahkan kaki dengan
tergesa. Tak kupedulikan suara Jade yang memanggilku. Aku hanya ingin pergi dan
mencari tempat tenang untuk berpikir. Aku terus melangkah tak memikirkan kemana
aku pergi dan tanpa sadar aku membawa diriku ke koridor yang menghubungkan
gedung utama dengan sebuah bangunan satu lantai yang terletak di belakang
gedung utama. Bangunan itu difungsikan sebagai perpustakaan. Aku sering
menghabiskan waktu disini untuk membaca buku.
Kulangkahkan
kaki ke salah satu pilar dan menyandarkan tubuhku. Kubiarkan mataku menjelajah menembus
keluar kaca yang membatasi koridor ini dengan taman yang tertata apik di
sekitar bangunan sekolah. Kubiarkan pikiranku mengembara, kembali ke pesta
dansa akhir tahun. Saat aku sedang menuruni anak tangga menuju lantai dansa,
seorang siswi yang berada di belakangku menginjak ujung gaunnya. Ia terjatuh
dan menubrukku, membuatku terguling hingga tak sadarkan diri.
Saat
tersadar, aku sudah berada di ruang kesehatan dengan rasa sakit di sekujur
tubuhku. Jade yang menungguiku mengatakan bahwa benturan di kepalaku tidak
parah karena ada seseorang yang melindungiku. Ia tersenyum lega, tapi
melihat matanya yang sembab, aku tahu ia habis menangis. Siswi yang menubrukku
hanya terkilir karena tidak terguling, berkali-kali ia meminta maaf. Setelah siswi
itu akhirnya pergi untuk beristirahat, aku baru menyadari bahwa tangan kiriku menggenggam
sesuatu, sebuah jam saku. Aku mengenali jam itu dan tahu siapa pemiliknya,
Nathi.
Tapi
setelah hari itu, aku tak bisa menemukannya sama sekali. Meskipun liburan musim
dingin telah berlalu, ia tak terlihat di sekolah. Aku berusaha mencarinya dan
bertanya pada siswa lain, tapi tak seorang pun yang mengetahuinya. Aku pun
akhirnya menyimpan jam itu dan selalu membawanya. Berharap suatu hari nanti
dapat bertemu kembali dengan pemiliknya. Kukeluarkan jam saku yang kusimpan di
dalam sakuku dan memandanginya.
“Mungkinkah?”
tanyaku dalam bisikan. Tapi hanya diam yang menjawab. Dan kubiarkan sunyi
menelan pikiranku.
“Kau
masih menyimpannya?”
Sebuah
suara di sampingku membuatku terkejut. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di
sampingku. Senyuman khas miliknya tersungging di bibirnya. Matanya yang biru
menatapku ramah. Aku memandangnya bingung.
“Aku
meninggalkan jam itu agar dapat menemukanmu. Tapi sepertinya itu tidak perlu. Tanpa
jam itu pun, aku mengingatmu dan langsung mengenalimu”.
Aku
mengerjapkan mata. Masih tak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Bertanya-tanya
apakah ini ilusi semata. Ia tertawa melihatku, sebuah cengiran usil muncul di
wajahnya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kalinya aku melihat cengiran
usil itu. Kemudian ia mencubit hidungku, membuatku tergeragap dan kembali
tersadar.
“Akhirnya
kita benar-benar bertemu. Namaku Nathanael Millford. Kau bisa memanggilku
Nathan”.
-End-
>>Afterwords
*top hat: Topi tinggi dengan crown datar dan silinder berbahan sutra, dililit pita dengan pinggiran sempit pada kedua sisinya ditekuk ke atas.
*top hat: Topi tinggi dengan crown datar dan silinder berbahan sutra, dililit pita dengan pinggiran sempit pada kedua sisinya ditekuk ke atas.
No comments:
Post a Comment