Saturday, 10 January 2015

Waltz in Dream #epilogue

Jade mengajakku melihat kedatangan siswa yang bernama Nathanael Millford dari salah satu balkon lantai dua di gedung utama. Saat aku melihat ke halaman sekolah, sudah berkumpul banyak murid disana. Melihat banyaknya murid di halaman, mungkin bisa dibilang lebih dari separuh murid sekolah ada disana. Belum lagi beberapa murid yang menunggu di balkon seperti kami.


“Jadi… siapa Nathanael Millford ini?” tanyaku keheranan melihat pemandangan di halaman.

“Kau benar-benar tidak memperhatikan yang kuceritakan semalam!” tandas Jade.

“Maaf,”

“Baiklah…” Jade mengubah posisinya dan berdiri menghadap ke arahku. “Nathanael Millford, putra kedua dari Duke Millford. Dengan parasnya dan kepandaiannya, dia sudah menarik perhatian banyak orang. Tapi selain itu, kepribadiannya yang menyenangkan, sifatnya yang ramah dan sikapnya yang sopan disukai banyak orang.”

Lalu Jade melanjutkan, “Bisa dibilang, hampir tak seorang pun di sekolah ini yang tidak mengenalnya, kecuali kau yang baru saja pindah. Itu karena beberapa minggu sebelum kau pindah kesini dia mengalami kecelakaan parah hingga akhirnya ia koma. Ia tersadar dua bulan yang lalu, sehari setelah pesta dansa akhir tahun.”

Aku menangkap nada sendu saat Jade menyinggung tentang kecelakaan yang menimpa siswa bernama Nathanael Millford tersebut. “Lalu… mengapa kau disini? Bukankah kau dekat dengan Aaron?”

Jade tersenyum, “Aaron memang istimewa bagiku. Tapi aku disini karena Nathan adalah sepupuku, ibu kami bersaudari. Selain itu, aku selalu mengagumi kemampuannya sejak dulu,”

Melihatnya tersenyum bangga saat bercerita mengenai pemuda bernama Nathan itu, aku pun mengambil kesimpulan, “Jadi, kau ingin pamer padaku?”

Jade tertawa riang. Aku pun ikut tersenyum.

“Ah! Itu dia datang!”

Aku mengalihkan pandangan ke halaman sekolah. Terlihat seorang pemuda mengenakan setelah jas seragam sekolah dan sebuah top hat* di kepalanya melewati gerbang utama. Ia berjalan menuju bangunan utama sekolah yang di depannya sudah berkumpul para murid yang menyambut kedatangannya. Beberapa menyalaminya, beberapa siswa menepuk-nepuk bahu juga punggungnya, dan hampir semuanya berbicara bersamaan mengucapkan selamat datang kembali.

Aku memandang pemuda itu dengan penasaran. Sejak melihatnya melewati gerbang utama, aku merasa familier dengannya. Aku mengamatinya sambil berusaha mengingat-ingat apa sebabnya. Namun, dari posisiku yang berada di balkon lantai dua dan karena topi yang dikenakannya, membuatku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Jade!” samar kudengar sebuah suara memanggil.

“Aaron! Hai!”

“Sedang apa kalian disini? Ikut menyambut?”

Aku mengalihkan pandangan dari kerumunan di bawah. Kulihat Aaron berdiri di samping Jade dan ikut melongokkan kepala ke bawah. Mereka berdua berbincang sambil melihat keadaan di halaman. Saat aku kembali memandang ke halaman, kulihat pemuda itu melepas topinya. Aku pun bisa melihat wajahnya. Kukerjapkan mata beberapa kali, meragukan apa yang kulihat. Lalu pemuda itu memandang ke arah balkon. Pandangan kami pun bertemu. Aku tak mempercayai apa yang kulihat.

“Apa yang!??”

Kakiku mudur selangkah. Kemudian aku memutar badan dan melangkahkan kaki dengan tergesa. Tak kupedulikan suara Jade yang memanggilku. Aku hanya ingin pergi dan mencari tempat tenang untuk berpikir. Aku terus melangkah tak memikirkan kemana aku pergi dan tanpa sadar aku membawa diriku ke koridor yang menghubungkan gedung utama dengan sebuah bangunan satu lantai yang terletak di belakang gedung utama. Bangunan itu difungsikan sebagai perpustakaan. Aku sering menghabiskan waktu disini untuk membaca buku.

Kulangkahkan kaki ke salah satu pilar dan menyandarkan tubuhku. Kubiarkan mataku menjelajah menembus keluar kaca yang membatasi koridor ini dengan taman yang tertata apik di sekitar bangunan sekolah. Kubiarkan pikiranku mengembara, kembali ke pesta dansa akhir tahun. Saat aku sedang menuruni anak tangga menuju lantai dansa, seorang siswi yang berada di belakangku menginjak ujung gaunnya. Ia terjatuh dan menubrukku, membuatku terguling hingga tak sadarkan diri.

Saat tersadar, aku sudah berada di ruang kesehatan dengan rasa sakit di sekujur tubuhku. Jade yang menungguiku mengatakan bahwa benturan di kepalaku tidak parah karena ada seseorang yang melindungiku. Ia tersenyum lega, tapi melihat matanya yang sembab, aku tahu ia habis menangis. Siswi yang menubrukku hanya terkilir karena tidak terguling, berkali-kali ia meminta maaf. Setelah siswi itu akhirnya pergi untuk beristirahat, aku baru menyadari bahwa tangan kiriku menggenggam sesuatu, sebuah jam saku. Aku mengenali jam itu dan tahu siapa pemiliknya, Nathi.

Tapi setelah hari itu, aku tak bisa menemukannya sama sekali. Meskipun liburan musim dingin telah berlalu, ia tak terlihat di sekolah. Aku berusaha mencarinya dan bertanya pada siswa lain, tapi tak seorang pun yang mengetahuinya. Aku pun akhirnya menyimpan jam itu dan selalu membawanya. Berharap suatu hari nanti dapat bertemu kembali dengan pemiliknya. Kukeluarkan jam saku yang kusimpan di dalam sakuku dan memandanginya.

“Mungkinkah?” tanyaku dalam bisikan. Tapi hanya diam yang menjawab. Dan kubiarkan sunyi menelan pikiranku.

“Kau masih menyimpannya?”

Sebuah suara di sampingku membuatku terkejut. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di sampingku. Senyuman khas miliknya tersungging di bibirnya. Matanya yang biru menatapku ramah. Aku memandangnya bingung.

“Aku meninggalkan jam itu agar dapat menemukanmu. Tapi sepertinya itu tidak perlu. Tanpa jam itu pun, aku mengingatmu dan langsung mengenalimu”.

Aku mengerjapkan mata. Masih tak bisa mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Bertanya-tanya apakah ini ilusi semata. Ia tertawa melihatku, sebuah cengiran usil muncul di wajahnya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kalinya aku melihat cengiran usil itu. Kemudian ia mencubit hidungku, membuatku tergeragap dan kembali tersadar.

“Akhirnya kita benar-benar bertemu. Namaku Nathanael Millford. Kau bisa memanggilku Nathan”.

-End-
>>Afterwords

*top hat: Topi tinggi dengan crown datar dan silinder berbahan sutra, dililit pita dengan pinggiran sempit pada kedua sisinya ditekuk ke atas.

No comments:

Post a Comment