Sunday, 1 February 2015

Between Us #part 1

Ruka baru saja menyelesaikan perkataannya ketika ia melihat mata Eri mulai berkaca-kaca. Air mata pun mulai meleleh melewati pipinya, bibir mungilnya bergetar. Rasa bersalah mulai menyelusup di hati Ruka yang sedang dilanda amarah.

“Kau terlalu keras padanya!” sembur Minoru.

Ruka langsung melirik kesal pada Minoru. Rasa bersalah yang tadi mulai timbul langsung terlibas oleh amarah yang kembali merajai hati Ruka. Beberapa siswa yang masih berada di kelas menggumamkan persetujuan mereka dengan perkataan Minoru.

“Ada apa ini?”

Satu suara yang sangat dikenal Ruka terdengar dari arah pintu kelas, Ruka menoleh ke arah sumber suara. Yoshiki yang baru kembali ke kelas terlihat bingung mendapati Ruka dan Minoru yang bersitegang serta Eri yang sedang terisak. Yoshiki menghampiri Eri dan berusaha menenangkan gadis cantik itu. Ruka melihat pemandangan itu dengan kesal. Ia membuang muka kemudian berbalik ke tempat duduknya yang berada di dekat jendela. Ruka membereskan buku-bukunya dan pergi dari kelas.

Seusai sekolah, biasanya Ruka pergi ke lapangan tempat klub memanah yang diikutinya untuk berlatih. Tapi suasana hatinya yang kacau membuatnya tak ingin datang ke klub. Ia pun melangkahkan kakinya ke ruang kesenian. Ruang kesenian sedang sepi, yang ada disana hanya seorang pria yang duduk di depan kanvas dan mengerjakan lukisannya. Ruka langsung menghempaskan dirinya ke salah satu kursi yang ada, tas yang dibawanya dibiarkan menggeletak di dekat kaki kursi. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya sambil mendengus kesal.

“Ada apa?”

Ruka tak menjawab pertanyaan Seiichirou, guru kesenian yang masih berusia muda dan baru saja mulai mengajar tahun ini. Seiichirou meletakkan palet dan kuasnya lalu beranjak menuju sebuah meja di sudut ruangan. Diatas meja itu terdapat sebuah teko elektrik, teko keramik berwarna hijau kecoklatan, sebuah toples, dan empat gelas mug berwarna putih. Seiichirou menuangkan isi teko keramik ke dalam dua gelas mug. Ia membawa keduanya dan menghampiri Ruka. Diangsurkannya salah satu mug tersebut pada Ruka.

“Terima kasih, Sei-chan!” Ruka menerima mug yang berisi teh hangat itu dengan kedua tengannya.

“Berapa kali kukatakan padamu untuk memanggilku ‘sensei’ jika di sekolah?!”

Seiichirou menarik kursi lain ke hadapan Ruka dan duduk diatasnya. Ia memandang galak ke arah Ruka. Melihat hal itu, Ruka tertawa pelan.

“Sei-chan itu tidak cocok pasang wajah galak,” Ruka menyeruput teh dalam mug yang dipegangnya. “hmm… teh seduhan Sei-chan memang selalu enak” komentarnya.

Seiichirou menghela napas. Wajahnya kembali melembut. Ia memang tak terbiasa marah, apalagi terhadap Ruka yang sudah ia anggap sebagai adik. Seiichirou mengulang pertanyannya, “Ada apa?”

“Hmm?”

“Kalau kau kesini dan bukannya pergi ke klub, pasti ada sesuatu. Kali ini ada apa?”

Ruka terdiam. Seiichirou menunggu Ruka berbicara sambil menyeruput tehnya. Ruka akhirnya angkat bicara setelah terdiam beberapa saat.

“Sei-chan, apa pendapatmu mengenai Nakamori?” Ruka menyebut nama keluarga Eri.

“Nakamori Eri-kun?”

“Iya”

“Kupikir dia anak yang baik dan manis,” jawab Seiichirou sekenanya.

“Hanya itu?”

“Iya. Memangnya kenapa?”

“Apa kau menjawab seperti itu karena kau seorang guru?”

“Apa? Hmm… entahlah.”

“Oh iya. Aku lupa. Sei-chan kan sudah memiliki Sayaka-san. Bagaimana kabar Sayaka-san? Akhir-akhir ini aku jarang melihatnya berkunjung ke rumahmu.” Rumah Seiichirou berseberangan dengan rumah Ruka, tak jarang Ruka melihat kedatangan Sayaka saat mengunjungi Seiichirou.

“Dia agak sibuk dengan toko kuenya yang baru saja dibuka. Jadi aku yang mengunjunginya,”

Ruka melihat wajah Seiichirou bersemu. Gadis itu pun tak melepaskan kesempatan untuk menggoda Seiichirou hingga wajahnya merah padam.

“Kenapa kau selalu menggodaku soal Sayaka-san?!” protes Seiichirou.

“Karena menarik. Wajahmu selalu memerah setiap kali nama Sayaka-san disebut.”

“Kau…”

Ruka tertawa melihat Seiichirou yang tak mampu mengelak. Seiichirou yang tersudut kemudian berdehem dan berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik semula.

“Kenapa jadi membahas Sayaka-san? Bagaimana denganmu? Ada apa dengan Nakamori-kun?”

Ruka menghentikan tawanya kemudian ia menghela napas. Ia mengedikkan bahu kanannya sebelum berbicara. “Entah kenapa akhir-akhir ini aku mudah marah padanya. Seakan dia tahu bagaimana cara membuatku marah,” Ruka tersenyum, menyadari sesuatu. “Kalau siswa lain mendengarku berkata seperti itu, mereka pasti mengira aku cemburu. Terutama para siswa laki-laki, mereka semua akan membela Nakamori.”

Seiichirou memandang Ruka yang memutar-mutar ujung jari telunjuknya menyusuri bibir mug. Ia mempertimbangkan kata-kata yang hendak ia ucapkan.

“Mungkin… kau memang cemburu,”

“Tidak mungkin,” Ruka tertawa.

“Kau cemburu karena waktu yang biasa kau habiskan bersama Yoshiki berkurang. Kalian bersahabat sejak kecil dan kau sudah terbiasa menghabiskan banyak waktu bersamanya. Tapi kini ia juga membagi waktunya bersama Nakamori-kun dan kebersamaan kalian berkurang.”

Ruka tertegun mendengar ucapan Seiichirou. “Sepertinya kau benar. Mungkin aku memang cemburu,” aku Ruka setelah merenung sesaat. Kemudian ia memberengut ke arah Seiichirou, “Tapi caramu mengatakannya terdengar seakan aku naksir Yoshiki!”

“Maaf! Maaf!” Seiichirou tertawa.

Ruka menghenduskan napas kesal. Kemudian ia kembali menunduk dan melanjutkan berbicara, berusaha mengurai isi hatinya. “Awalnya aku tak keberatan Nakamori bergabung denganku dan Yoshiki. Aku ikut senang untuk Yoshiki karena aku tahu ia tertarik pada Nakamori, seperti siswa lain. Tapi lama-lama aku merasa tersingkir. Seperti tak ada lagi ruang bagiku diantara mereka berdua. Aku merasa seperti pengganggu.”

Seiichirou diam sejenak. Kemudian ia berkata dengan suara lembut. “Mungkin… mungkin tak ada lagi ruang bagimu diantara mereka berdua. Tapi kuyakin selalu ada ruang bagimu dalam hati Yoshiki. Bukankah kalian berteman baik sejak SD? Percayalah padanya.”

Ruka memikirkan perkataan Seichirou dan tersenyum pahit. Sedikit sakit memang, mendengar Seiichirou menyetujui perkataannya bahwa tak ada lagi ruang baginya di antara Yoshiki dan Eri. Tapi Ruka memutuskan untuk mempercayai Yoshiki.

“Ng!” Ruka mengangguk.

Seiichirou tersenyum dan mengusap kepala Ruka. Kemudian ia beranjak dari kursi dan kembali mengerjakan lukisannya yang belum selesai. “Kalau sudah mengerti, pergilah ke klub!”

“Tidak mau!” jawab Ruka badung. “Aku mau menghabiskan teh dengan santai disini. Kan sayang menyia-nyiakan teh seduhan Sei-chan yang nikmat ini.”

Seichirou menatap Ruka dan menghela napas. “Ruka…”

Ruka memandang Seiichirou dengan wajah jahil. Seiichirou menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. Ia pun meraih kuas dan paletnya kembali sementara Ruka memandang ke luar jendela dengan perasaan ringan.

『僕たちの仲』

。。。

No comments:

Post a Comment