Ruka
baru saja menyelesaikan perkataannya ketika ia melihat mata Eri mulai
berkaca-kaca. Air mata pun mulai meleleh melewati pipinya, bibir mungilnya
bergetar. Rasa bersalah mulai menyelusup di hati Ruka yang sedang dilanda
amarah.
“Kau
terlalu keras padanya!” sembur Minoru.
Ruka
langsung melirik kesal pada Minoru. Rasa bersalah yang tadi mulai timbul
langsung terlibas oleh amarah yang kembali merajai hati Ruka. Beberapa siswa
yang masih berada di kelas menggumamkan persetujuan mereka dengan perkataan
Minoru.
“Ada
apa ini?”
Seusai
sekolah, biasanya Ruka pergi ke lapangan tempat klub memanah yang diikutinya untuk
berlatih. Tapi suasana hatinya yang kacau membuatnya tak ingin datang ke klub.
Ia pun melangkahkan kakinya ke ruang kesenian. Ruang kesenian sedang sepi, yang
ada disana hanya seorang pria yang duduk di depan kanvas dan mengerjakan
lukisannya. Ruka langsung menghempaskan dirinya ke salah satu kursi yang ada,
tas yang dibawanya dibiarkan menggeletak di dekat kaki kursi. Gadis itu
menyilangkan kedua tangannya sambil mendengus kesal.
“Ada
apa?”
Ruka
tak menjawab pertanyaan Seiichirou, guru kesenian yang masih berusia muda dan
baru saja mulai mengajar tahun ini. Seiichirou meletakkan palet dan kuasnya
lalu beranjak menuju sebuah meja di sudut ruangan. Diatas meja itu terdapat
sebuah teko elektrik, teko keramik berwarna hijau kecoklatan, sebuah toples,
dan empat gelas mug berwarna putih. Seiichirou menuangkan isi teko keramik ke
dalam dua gelas mug. Ia membawa keduanya dan menghampiri Ruka. Diangsurkannya
salah satu mug tersebut pada Ruka.
“Terima
kasih, Sei-chan!” Ruka menerima mug yang berisi teh hangat itu dengan kedua
tengannya.
“Berapa
kali kukatakan padamu untuk memanggilku ‘sensei’ jika di sekolah?!”
Seiichirou
menarik kursi lain ke hadapan Ruka dan duduk diatasnya. Ia memandang galak ke
arah Ruka. Melihat hal itu, Ruka tertawa pelan.
“Sei-chan
itu tidak cocok pasang wajah galak,” Ruka menyeruput teh dalam mug yang
dipegangnya. “hmm… teh seduhan Sei-chan memang selalu enak” komentarnya.
Seiichirou
menghela napas. Wajahnya kembali melembut. Ia memang tak terbiasa marah,
apalagi terhadap Ruka yang sudah ia anggap sebagai adik. Seiichirou mengulang
pertanyannya, “Ada apa?”
“Hmm?”
“Kalau
kau kesini dan bukannya pergi ke klub, pasti ada sesuatu. Kali ini ada apa?”
Ruka
terdiam. Seiichirou menunggu Ruka berbicara sambil menyeruput tehnya. Ruka
akhirnya angkat bicara setelah terdiam beberapa saat.
“Sei-chan,
apa pendapatmu mengenai Nakamori?” Ruka menyebut nama keluarga Eri.
“Nakamori
Eri-kun?”
“Iya”
“Kupikir
dia anak yang baik dan manis,” jawab Seiichirou sekenanya.
“Hanya
itu?”
“Iya.
Memangnya kenapa?”
“Apa
kau menjawab seperti itu karena kau seorang guru?”
“Apa?
Hmm… entahlah.”
“Oh
iya. Aku lupa. Sei-chan kan sudah memiliki Sayaka-san. Bagaimana kabar
Sayaka-san? Akhir-akhir ini aku jarang melihatnya berkunjung ke rumahmu.” Rumah
Seiichirou berseberangan dengan rumah Ruka, tak jarang Ruka melihat kedatangan
Sayaka saat mengunjungi Seiichirou.
“Dia
agak sibuk dengan toko kuenya yang baru saja dibuka. Jadi aku yang
mengunjunginya,”
Ruka
melihat wajah Seiichirou bersemu. Gadis itu pun tak melepaskan kesempatan untuk
menggoda Seiichirou hingga wajahnya merah padam.
“Kenapa
kau selalu menggodaku soal Sayaka-san?!” protes Seiichirou.
“Karena
menarik. Wajahmu selalu memerah setiap kali nama Sayaka-san disebut.”
“Kau…”
Ruka
tertawa melihat Seiichirou yang tak mampu mengelak. Seiichirou yang tersudut
kemudian berdehem dan berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik semula.
“Kenapa
jadi membahas Sayaka-san? Bagaimana denganmu? Ada apa dengan Nakamori-kun?”
Ruka
menghentikan tawanya kemudian ia menghela napas. Ia mengedikkan bahu kanannya sebelum
berbicara. “Entah kenapa akhir-akhir ini aku mudah marah padanya. Seakan dia
tahu bagaimana cara membuatku marah,” Ruka tersenyum, menyadari sesuatu. “Kalau
siswa lain mendengarku berkata seperti itu, mereka pasti mengira aku cemburu.
Terutama para siswa laki-laki, mereka semua akan membela Nakamori.”
Seiichirou
memandang Ruka yang memutar-mutar ujung jari telunjuknya menyusuri bibir mug.
Ia mempertimbangkan kata-kata yang hendak ia ucapkan.
“Mungkin…
kau memang cemburu,”
“Tidak
mungkin,” Ruka tertawa.
“Kau
cemburu karena waktu yang biasa kau habiskan bersama Yoshiki berkurang. Kalian
bersahabat sejak kecil dan kau sudah terbiasa menghabiskan banyak waktu
bersamanya. Tapi kini ia juga membagi waktunya bersama Nakamori-kun dan
kebersamaan kalian berkurang.”
Ruka
tertegun mendengar ucapan Seiichirou. “Sepertinya kau benar. Mungkin aku memang
cemburu,” aku Ruka setelah merenung sesaat. Kemudian ia memberengut ke arah
Seiichirou, “Tapi caramu mengatakannya terdengar seakan aku naksir Yoshiki!”
“Maaf!
Maaf!” Seiichirou tertawa.
Ruka
menghenduskan napas kesal. Kemudian ia kembali menunduk dan melanjutkan
berbicara, berusaha mengurai isi hatinya. “Awalnya aku tak keberatan Nakamori
bergabung denganku dan Yoshiki. Aku ikut senang untuk Yoshiki karena aku tahu
ia tertarik pada Nakamori, seperti siswa lain. Tapi lama-lama aku merasa
tersingkir. Seperti tak ada lagi ruang bagiku diantara mereka berdua. Aku
merasa seperti pengganggu.”
Seiichirou
diam sejenak. Kemudian ia berkata dengan suara lembut. “Mungkin… mungkin tak
ada lagi ruang bagimu diantara mereka berdua. Tapi kuyakin selalu ada ruang
bagimu dalam hati Yoshiki. Bukankah kalian berteman baik sejak SD? Percayalah
padanya.”
Ruka
memikirkan perkataan Seichirou dan tersenyum pahit. Sedikit sakit memang,
mendengar Seiichirou menyetujui perkataannya bahwa tak ada lagi ruang baginya
di antara Yoshiki dan Eri. Tapi Ruka memutuskan untuk mempercayai Yoshiki.
“Ng!”
Ruka mengangguk.
Seiichirou
tersenyum dan mengusap kepala Ruka. Kemudian ia beranjak dari kursi dan kembali
mengerjakan lukisannya yang belum selesai. “Kalau sudah mengerti, pergilah ke
klub!”
“Tidak
mau!” jawab Ruka badung. “Aku mau menghabiskan teh dengan santai disini. Kan
sayang menyia-nyiakan teh seduhan Sei-chan yang nikmat ini.”
Seichirou
menatap Ruka dan menghela napas. “Ruka…”
Ruka
memandang Seiichirou dengan wajah jahil. Seiichirou menggeleng-gelengkan kepala
melihatnya. Ia pun meraih kuas dan paletnya kembali sementara Ruka memandang ke
luar jendela dengan perasaan ringan.
『僕たちの仲』
。。。
No comments:
Post a Comment