Wednesday, 27 May 2015

Between Us #part 2

Tok! Tok!

Menyusul suara ketukan, pintu kamar Ruka dibuka dari luar. Ruka yang sedang mengerjakan PR menoleh ke arah pintu. Sesosok pemuda berdiri di ambang pintu, Yoshiki.

“Hei!” sapa Yoshiki.

“Pengganggu,” ucap Ruka cuek, ia kembali menekuni PR-nya.


“Seenaknya saja kau bilang aku pengganggu. Padahal aku bawa cake dari toko Sayaka-san,” Yoshiki mengacungkan kotak kue yang dibawanya.

“Mengapa tidak kau katakan dari tadi!” Ruka langsung meloncat riang dari kursi, meninggalkan PR yang sedang ia kerjakan. Ia segera mengambil beberapa bantal duduk dan meletakkannya di lantai. Yoshiki masuk ke kamar Ruka dan duduk bersila di atas salah satu bantal.

“PR apa yang sedang kau kerjakan?” tanyanya sambil memandang penasaran ke arah meja belajar Ruka.

“Matematika,” jawab Ruka, ia duduk di atas bantalan yang diletakkannya di depan Yoshiki.

“Yosh… Besok pagi kupinjam ya!”

Ruka menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dasar pemalas! Kau kan lebih pintar dariku,”

“Hei! Aku ini hanya peringkat 30 dari seluruh murid kelas 1. Sementara kau berada di peringkat 10,” ucap Yoshiki santai.

Ruka tertawa. “Kalau saja kau mau menggunakan otakmu sedikit, kau bisa saja menjadi peringkat pertama sesekolah,"

"Tidak mungkin. Murid-murid yang lain kan lebih pintar dariku,"

"Sikapmu yang seperti itu seakan meledekku," ucap Ruka.

"Hm? Kenapa?" tanya Yoshiki.

"Apa kau ingat? Ketika kita kelas 2 SMP kau pernah menjadi peringkat pertama sesekolah hanya karena ingin membuat Nana tertarik padamu" jawab Ruka, ia menyinggung gadis yang sempat membuat Yoshiki tertarik saat masih SMP, "kau berhasil mengalahkan Minoru dan membuatnya menjadi peringkat kedua. Selain pada saat itu, kau bahkan tidak ada dalam peringkat 10 besar,"

Yoshiki menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Memangnya ada yang berbeda dengan caraku belajar saat itu? Seingatku sama saja."

"Ya. Memang tidak ada yang berbeda. Hanya saja ketika ujian kau tidak tidur karena Nana duduk di meja sebelahmu. Padahal biasanya kau tidur saat ujian dan baru mulai mengerjakan soal ujian 15 menit sebelum waktu berakhir. Dan aku heran dengan kebiasaanmu seperti itu, tapi kau masih bisa berada di peringkat 30," Ruka menggeleng-gelengkan kepalanya.

Yoshiki hanya tertawa cengengesan. Ruka tersenyum.

“Neechan!”

Ruka dan Yoshiki menoleh kearah pintu bersamaan. Ruri, adik perempuan Ruka, masuk membawa nampan berisi dua gelas es teh melalui pintu yang dibiarkan terbuka. Gadis kelas 1 SMP itu lalu meletakkan kedua gelas es teh di depan Yoshiki dan Ruka.

“Wah terima kasih, Ruri” ucap Yoshiki sambil mengelus kepala Ruri. “Oh iya, kau mau cake yang mana?”

Ruri melihat cake yang dibawa Yoshiki. Kemudian ia memandang ke arah Ruka. “Neechan mau yang mana?” tanyanya.

“Yang mana saja,” jawab Ruka cuek sambil mengambil es teh yang dibawa Ruri dan menyeruputnya.

Yoshiki yang melihatnya hanya tersenyum. Ia tahu bahwa Ruka dan Ruri memiliki kesukaan yang sama. Namun Ruka sengaja bersikap cuek hanya agar Ruri tidak merasa sungkan memilih cake yang ingin ia makan. Yoshiki juga tahu bahwa Ruri sebenarnya memahami maksud dari sikap Ruka, tapi memilih untuk bersikap pura-pura tak mengerti karena ia menyayangi kakaknya.

“Lalu?” tanya Ruka setelah Ruri keluar dari kamarnya.

“Apa?” tanya Yoshiki sambil menikmati cake yang dibawanya.

“Kau kesini karena kejadian tadi siang kan?”

“Apa terlihat sejelas itu?”

“Mm!” Ruka bergumam menyetujui sambil menikmati cake.

“Baiklah kalau kau sudah tahu, aku akan tanya langsung. Sebenarnya akhir-akhir ini kau kenapa? Kau jadi terlihat mudah kesal.”

Ruka menatap Yoshiki yang tengah memandangnya. Gadis itu menaruh cake yang dimakannya.

“Hmm… bagaimana ya…”

Ruka memikirkan apa yang sebaiknya ia jelaskan pada Yoshiki. Yoshiki memang temannya sejak kecil, tapi Ruka merasa ia tidak harus memberitahukan apa yang ia bincangkan dengan Seiichirou.

“Kalau kau bertanya tentang tadi siang, itu karena PMS,” ucap Ruka.

“Eh?”

“Pre-Menstrual Syndrome,” jawaban Ruka tidak sepenuhnya jujur, tapi juga tidak bohong. Periode bulanannya memang sebentar lagi datang.

Mendengar jawaban Ruka, Yoshiki hanya terdiam bingung. Ia tidak paham soal kewanitaan seperti itu, dan reaksi demikian yang diinginkan Ruka.

“Kuakui akhir-akhir ini aku memang jadi sensitif dan mudah marah. Akan kuperbaiki. Aku juga akan minta maaf pada Eri besok,”

“OK…” Yoshiki nyengir mendengar ucapan Ruka. “Tapi, tadi siang perdebatan kalian terdengar hingga keluar kelas lho, kau dan Minoru. Dia masih saja mudah marah padamu,”

Ruka tertawa. “Padahal upacara penerimaan siswa baru sudah berberapa bulan yang lalu dan dia mendapat peringkat pertama saat ujian semester kemarin. Aku heran mengapa ia masih menganggapku saingan.”

Minoru yang saat SMP juga satu sekolah dengan Yoshiki dan Ruka selalu menempati ranking teratas saat SMP. Namun saat ujian masuk SMA, Ruka berhasil menempati urutan teratas, mengalahkan Minoru. Sejak saat itu, Minoru selalu berusaha berkompetisi dengan Ruka meski sering diabaikan.

“Jangan-jangan dia naksir padamu,”

“Dengan sikap seperti itu? Aku meragukannya. Bukankah ia juga sempat bersikap seperti itu padamu saat kita SMP? Hanya saja, sikapnya yang seperti itu tidak terlalu terasa karena ia berada di kelas yang berbeda dengan kita.”

“Apa iya?” Yoshiki berusaha mengingat-ingat masa saat mereka kelas 2 SMP. Tak lama kemudia ia lalu berkata, “Oh iya. Benar.”

“Kau ini!” Ruka tertawa.

Yoshiki nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu ia teringat sesuatu. “Oh ya, aku dapat game baru. Aku tahu dari Yana.”

“Game lagi?”

Yoshiki lalu melanjutkan bercerita tentang game yang baru saja mulai ia mainkan. Sesekali Ruka menimpali dan bertanya mengenai game itu.

『僕たちの仲』
。。。

No comments:

Post a Comment