Tok!
Tok!
Menyusul
suara ketukan, pintu kamar Ruka dibuka dari luar. Ruka yang sedang mengerjakan
PR menoleh ke arah pintu. Sesosok pemuda berdiri di ambang pintu, Yoshiki.
“Hei!”
sapa Yoshiki.
“Pengganggu,”
ucap Ruka cuek, ia kembali menekuni PR-nya.
“Seenaknya
saja kau bilang aku pengganggu. Padahal aku bawa cake dari toko Sayaka-san,”
Yoshiki mengacungkan kotak kue yang dibawanya.
“Mengapa
tidak kau katakan dari tadi!” Ruka langsung meloncat riang dari kursi,
meninggalkan PR yang sedang ia kerjakan. Ia segera mengambil beberapa bantal
duduk dan meletakkannya di lantai. Yoshiki masuk ke kamar Ruka dan duduk
bersila di atas salah satu bantal.
“PR
apa yang sedang kau kerjakan?” tanyanya sambil memandang penasaran ke arah meja
belajar Ruka.
“Matematika,”
jawab Ruka, ia duduk di atas bantalan yang diletakkannya di depan Yoshiki.
“Yosh…
Besok pagi kupinjam ya!”
Ruka
menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dasar pemalas! Kau kan lebih pintar dariku,”
“Hei!
Aku ini hanya peringkat 30 dari seluruh murid kelas 1. Sementara kau berada di
peringkat 10,” ucap Yoshiki santai.
Ruka
tertawa. “Kalau saja kau mau menggunakan otakmu sedikit, kau bisa saja menjadi
peringkat pertama sesekolah,"
"Tidak
mungkin. Murid-murid yang lain kan lebih pintar dariku,"
"Sikapmu
yang seperti itu seakan meledekku," ucap Ruka.
"Hm?
Kenapa?" tanya Yoshiki.
"Apa
kau ingat? Ketika kita kelas 2 SMP kau pernah menjadi peringkat pertama
sesekolah hanya karena ingin membuat Nana tertarik padamu" jawab Ruka, ia
menyinggung gadis yang sempat membuat Yoshiki tertarik saat masih SMP,
"kau berhasil mengalahkan Minoru dan membuatnya menjadi peringkat kedua. Selain
pada saat itu, kau bahkan tidak ada dalam peringkat 10 besar,"
Yoshiki
menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Memangnya ada yang berbeda dengan
caraku belajar saat itu? Seingatku sama saja."
"Ya.
Memang tidak ada yang berbeda. Hanya saja ketika ujian kau tidak tidur karena
Nana duduk di meja sebelahmu. Padahal biasanya kau tidur saat ujian dan baru
mulai mengerjakan soal ujian 15 menit sebelum waktu berakhir. Dan aku heran
dengan kebiasaanmu seperti itu, tapi kau masih bisa berada di peringkat
30," Ruka menggeleng-gelengkan kepalanya.
Yoshiki
hanya tertawa cengengesan. Ruka tersenyum.
“Neechan!”
Ruka
dan Yoshiki menoleh kearah pintu bersamaan. Ruri, adik perempuan Ruka, masuk
membawa nampan berisi dua gelas es teh melalui pintu yang dibiarkan terbuka.
Gadis kelas 1 SMP itu lalu meletakkan kedua gelas es teh di depan Yoshiki dan
Ruka.
“Wah
terima kasih, Ruri” ucap Yoshiki sambil mengelus kepala Ruri. “Oh iya, kau mau
cake yang mana?”
Ruri
melihat cake yang dibawa Yoshiki. Kemudian ia memandang ke arah Ruka. “Neechan
mau yang mana?” tanyanya.
“Yang
mana saja,” jawab Ruka cuek sambil mengambil es teh yang dibawa Ruri dan
menyeruputnya.
Yoshiki
yang melihatnya hanya tersenyum. Ia tahu bahwa Ruka dan Ruri memiliki kesukaan
yang sama. Namun Ruka sengaja bersikap cuek hanya agar Ruri tidak merasa
sungkan memilih cake yang ingin ia makan. Yoshiki juga tahu bahwa Ruri
sebenarnya memahami maksud dari sikap Ruka, tapi memilih untuk bersikap pura-pura
tak mengerti karena ia menyayangi kakaknya.
“Lalu?”
tanya Ruka setelah Ruri keluar dari kamarnya.
“Apa?”
tanya Yoshiki sambil menikmati cake yang dibawanya.
“Kau
kesini karena kejadian tadi siang kan?”
“Apa
terlihat sejelas itu?”
“Mm!”
Ruka bergumam menyetujui sambil menikmati cake.
“Baiklah
kalau kau sudah tahu, aku akan tanya langsung. Sebenarnya akhir-akhir ini kau
kenapa? Kau jadi terlihat mudah kesal.”
Ruka
menatap Yoshiki yang tengah memandangnya. Gadis itu menaruh cake yang
dimakannya.
“Hmm…
bagaimana ya…”
Ruka
memikirkan apa yang sebaiknya ia jelaskan pada Yoshiki. Yoshiki memang temannya
sejak kecil, tapi Ruka merasa ia tidak harus memberitahukan apa yang ia
bincangkan dengan Seiichirou.
“Kalau
kau bertanya tentang tadi siang, itu karena PMS,” ucap Ruka.
“Eh?”
“Pre-Menstrual
Syndrome,” jawaban Ruka tidak sepenuhnya jujur, tapi juga tidak bohong. Periode
bulanannya memang sebentar lagi datang.
Mendengar
jawaban Ruka, Yoshiki hanya terdiam bingung. Ia tidak paham soal kewanitaan
seperti itu, dan reaksi demikian yang diinginkan Ruka.
“Kuakui
akhir-akhir ini aku memang jadi sensitif dan mudah marah. Akan kuperbaiki. Aku juga
akan minta maaf pada Eri besok,”
“OK…”
Yoshiki nyengir mendengar ucapan Ruka. “Tapi, tadi siang perdebatan kalian terdengar
hingga keluar kelas lho, kau dan Minoru. Dia masih saja mudah marah padamu,”
Ruka
tertawa. “Padahal upacara penerimaan siswa baru sudah berberapa bulan yang lalu
dan dia mendapat peringkat pertama saat ujian semester kemarin. Aku heran
mengapa ia masih menganggapku saingan.”
Minoru
yang saat SMP juga satu sekolah dengan Yoshiki dan Ruka selalu menempati
ranking teratas saat SMP. Namun saat ujian masuk SMA, Ruka berhasil menempati
urutan teratas, mengalahkan Minoru. Sejak saat itu, Minoru selalu berusaha
berkompetisi dengan Ruka meski sering diabaikan.
“Jangan-jangan
dia naksir padamu,”
“Dengan
sikap seperti itu? Aku meragukannya. Bukankah ia juga sempat bersikap seperti
itu padamu saat kita SMP? Hanya saja, sikapnya yang seperti itu tidak terlalu
terasa karena ia berada di kelas yang berbeda dengan kita.”
“Apa
iya?” Yoshiki berusaha mengingat-ingat masa saat mereka kelas 2 SMP. Tak lama
kemudia ia lalu berkata, “Oh iya. Benar.”
“Kau
ini!” Ruka tertawa.
Yoshiki
nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu ia teringat sesuatu. “Oh
ya, aku dapat game baru. Aku tahu dari Yana.”
“Game
lagi?”
Yoshiki
lalu melanjutkan bercerita tentang game yang baru saja mulai ia mainkan. Sesekali
Ruka menimpali dan bertanya mengenai game itu.
『僕たちの仲』
。。。
No comments:
Post a Comment