Beberapa hari yang lalu temanku
mengajak teman-teman di grup untuk menulis cerita mengenai lagu kenangan. Aku mencoba
melihat-lihat isi folder lagu yang kupunya. Tapi tak satupun yang ‘klik’ untuk
kutulis menjadi cerita. Aku memang senang mendengarkan lagu, tapi jarang sekali
aku mengaitkan lagu dengan kejadian tertentu. So, aku hanya punya sedikit lagu
kenangan yang terpikirkan.
Dari sedikit lagu kenangan yang
terpikirkan aku mencoba memikirkan plot cerita. Hasilnya? Tak ada. Tak satupun
plot cerita yang terpikirkan olehku. Ketika kukatakan pada temanku, ia
mengusulkan untuk menulis ‘curcol’ mengapa lagu itu menjadi lagu kenangan. Baiklah,
pikirku. Aku kembali menyisir memori, ada beberapa kenangan. Kucoba untuk
menuliskan ‘curcol’-an itu, kembali macet. Aku tertawa miris.
Setelah beberapa hari ini mencoba dan tak ada hasil, aku mendapat ide dari tempat yang tak disangka-sangka. Pagi ini aku sudah duduk manis di depan laptop untuk browsing, jujur saja ajakan temanku untuk menulis mengenai lagu kenangan hampir terlupakan olehku. Dari tempatku, aku bisa mendengar suara televisi yang ditonton kedua orang tuaku. Para penyiar sedang membahas mengenai sekelompok mahasiswa yang dengan rutin mensosialisasikan kembali lagu anak-anak.
Lagu anak-anak. Ide itu menyala
begitu saja di kepalaku. Seakan ada bohlam lampu yang menyala di atas kepala
seperti yang ada di film kartun. Aku teringat ada sebuah lagu anak-anak yang
diaransemen ulang oleh The Piano Guys yang berjudul Twinkle Twinkle Little
Star. Iseng kubuka kembali video yang kudownload beberapa bulan yang lalu. Irama
pembukanya menghangatkan hatiku, lalu disambung dengan irama Twinkle Little Star yang sudah diaransemen ulang. Dengan permainan piano Jon Schmidt
dan cello Steven Sharp Nelson, lagu itu menjelma menjadi lagu pengantar tidur
yang sangat manis.
Aku pun teringat masa kanak-kanakku
dulu, masa di saat aku sering menyanyikan lagu itu. Ibuku memang selalu mengoreksi nada saat
aku beryanyi, begitu juga dengan lagu Twinkle Little Star ini. Tapi tetap saja aku tak mengikuti koreksi beliau. Karena menurut
telingaku nada yang kupakai sudah tepat. Rentang nada suaraku memang rendah,
makanya menurut ibuku saat aku bernyanyi pada nada rendah nada yang kunyanyikan
terlalu rendah dan saat bernyanyi nada tinggi nada yang kunyanyikan kurang
tinggi. Haha… inilah yang namanya buta nada.
Hari sudah beranjak siang ketika ibuku memanggilku.
“De, dulu mbah kakung sering main
lagu ini pakai gitar,”
“Lagu apa?” aku menghampiri ibuku
yang sedang duduk di depan televisi.
“Lagu ini. Coba dengar,”
Aku menyimak lagu yang dijadikan
musik latar acara televisi yang sedang tayang.
“Musik apa ini? Gabus bukan?” tanya
ibuku.
“Sepertinya iya,” aku pun sama tak
yakinnya dengan ibuku.
Apa ini suatu kebetulan? Di saat
aku menulis mengenai lagu kenangan, ibuku juga terkenang lagu yang sering
dimainkan almarhum kakek.
No comments:
Post a Comment