Thursday, 16 January 2014

Lagu Kenangan: Aku dan Ibuku

Beberapa hari yang lalu temanku mengajak teman-teman di grup untuk menulis cerita mengenai lagu kenangan. Aku mencoba melihat-lihat isi folder lagu yang kupunya. Tapi tak satupun yang ‘klik’ untuk kutulis menjadi cerita. Aku memang senang mendengarkan lagu, tapi jarang sekali aku mengaitkan lagu dengan kejadian tertentu. So, aku hanya punya sedikit lagu kenangan yang terpikirkan.

Dari sedikit lagu kenangan yang terpikirkan aku mencoba memikirkan plot cerita. Hasilnya? Tak ada. Tak satupun plot cerita yang terpikirkan olehku. Ketika kukatakan pada temanku, ia mengusulkan untuk menulis ‘curcol’ mengapa lagu itu menjadi lagu kenangan. Baiklah, pikirku. Aku kembali menyisir memori, ada beberapa kenangan. Kucoba untuk menuliskan ‘curcol’-an itu, kembali macet. Aku tertawa miris.

Setelah beberapa hari ini mencoba dan tak ada hasil, aku mendapat ide dari tempat yang tak disangka-sangka. Pagi ini aku sudah duduk manis di depan laptop untuk browsing, jujur saja ajakan temanku untuk menulis mengenai lagu kenangan hampir terlupakan olehku. Dari tempatku, aku bisa mendengar suara televisi yang ditonton kedua orang tuaku. Para penyiar sedang membahas mengenai sekelompok mahasiswa yang dengan rutin mensosialisasikan kembali lagu anak-anak.

Lagu anak-anak. Ide itu menyala begitu saja di kepalaku. Seakan ada bohlam lampu yang menyala di atas kepala seperti yang ada di film kartun. Aku teringat ada sebuah lagu anak-anak yang diaransemen ulang oleh The Piano Guys yang berjudul Twinkle Twinkle Little Star. Iseng kubuka kembali video yang kudownload beberapa bulan yang lalu. Irama pembukanya menghangatkan hatiku, lalu disambung dengan irama Twinkle Little Star yang sudah diaransemen ulang. Dengan permainan piano Jon Schmidt dan cello Steven Sharp Nelson, lagu itu menjelma menjadi lagu pengantar tidur yang sangat manis.

Aku pun teringat masa kanak-kanakku dulu, masa di saat aku sering menyanyikan lagu itu. Ibuku memang selalu mengoreksi nada saat aku beryanyi, begitu juga dengan lagu Twinkle Little Star ini. Tapi tetap saja aku tak mengikuti koreksi beliau. Karena menurut telingaku nada yang kupakai sudah tepat. Rentang nada suaraku memang rendah, makanya menurut ibuku saat aku bernyanyi pada nada rendah nada yang kunyanyikan terlalu rendah dan saat bernyanyi nada tinggi nada yang kunyanyikan kurang tinggi. Haha… inilah yang namanya buta nada.

Hari sudah beranjak siang ketika ibuku memanggilku.

“De, dulu mbah kakung sering main lagu ini pakai gitar,”

“Lagu apa?” aku menghampiri ibuku yang sedang duduk di depan televisi.

“Lagu ini. Coba dengar,”

Aku menyimak lagu yang dijadikan musik latar acara televisi yang sedang tayang.

“Musik apa ini? Gabus bukan?” tanya ibuku.

“Sepertinya iya,” aku pun sama tak yakinnya dengan ibuku.

Apa ini suatu kebetulan? Di saat aku menulis mengenai lagu kenangan, ibuku juga terkenang lagu yang sering dimainkan almarhum kakek.


No comments:

Post a Comment