Saturday, 25 January 2014

Tak Dapat Kurasa

“Jadi, kata dokter apa pantangannya?”

“Tidak ada. Dokternya bilang tidak usah dikasih pantangan apa-apa. Beri saja apa yang beliau minta. Kemarin juga ketika beliau minta pulang karena tidak betah di rumah sakit langsung diizinkan. Dibuat senang saja,” ia tersenyum dan tertawa kecil. Tapi dimatanya tersirat rasa sedih.

Aku hanya mendengarkan kedua orang itu dengan diam. ‘Beri saja apa yang beliau minta. Dibuat senang saja.’? Aku mengulang kalimat yang ia ucapkan berkali-kali dalam pikiranku.

Apa maksudnya? Apakah yang dokter maksudkan bahwa waktunya sudah tidak lama lagi? Otakku kalut memikirkannya, tapi aku tak bereaksi apapun. 

Lalu aku menyadari sesuatu. Kulongok hatiku, ada rasa hampa disana. Aku bingung. Kucoba melongok lagi, bahkan hingga ke sudut. Tak ada rasa sedih.

Kesal, kukatakan pada diriku. Hei! Itu keluargamu sendiri! Apa tidak ada rasa sedih sekalipun?

Tapi tak ada. Yang ada disana hanya rasa hampa.

Aku mendesah. Mengapa rasanya jadi nelangsa saat kau berharap menemukan 'sedih' tapi hanya 'hampa' yang kau temui.

No comments:

Post a Comment