“Jadi, kata dokter apa
pantangannya?”
“Tidak ada. Dokternya bilang tidak
usah dikasih pantangan apa-apa. Beri saja apa yang beliau minta. Kemarin juga
ketika beliau minta pulang karena tidak betah di rumah sakit langsung diizinkan. Dibuat senang saja,”
ia tersenyum dan tertawa kecil. Tapi dimatanya tersirat rasa sedih.
Aku hanya mendengarkan kedua orang
itu dengan diam. ‘Beri saja apa yang beliau minta. Dibuat senang saja.’? Aku mengulang kalimat yang ia
ucapkan berkali-kali dalam pikiranku.
Apa maksudnya? Apakah yang dokter
maksudkan bahwa waktunya sudah tidak lama lagi? Otakku kalut memikirkannya,
tapi aku tak bereaksi apapun.
Lalu aku menyadari sesuatu. Kulongok hatiku, ada rasa hampa disana. Aku bingung. Kucoba melongok lagi, bahkan hingga ke sudut. Tak ada rasa sedih.
Lalu aku menyadari sesuatu. Kulongok hatiku, ada rasa hampa disana. Aku bingung. Kucoba melongok lagi, bahkan hingga ke sudut. Tak ada rasa sedih.
Kesal, kukatakan pada diriku. Hei! Itu
keluargamu sendiri! Apa tidak ada rasa sedih sekalipun?
Tapi tak ada. Yang ada disana hanya
rasa hampa.
Aku mendesah. Mengapa rasanya jadi nelangsa saat kau berharap menemukan 'sedih' tapi hanya 'hampa' yang kau temui.
Aku mendesah. Mengapa rasanya jadi nelangsa saat kau berharap menemukan 'sedih' tapi hanya 'hampa' yang kau temui.
No comments:
Post a Comment