Kulangkahkan kaki melewati pintu masuk
supermarket yang berada tak jauh dari rumah. Kudekati konter penitipan barang,
hendak menitipkan tas yang kubawa. Tak ada petugas disana. Kuedarkan pandangan,
mencari pramuniaga yang sedang lengang. Pramuniaga yang bertugas di kasir
terdekat sedang sibuk melayani pelanggan. Sepertinya aku harus menunggu.
Seorang pramuniaga yang sedang menata
barang di lemari pendingin yang letaknya tak jauh dari konter penitipan barang
menyadari kehadiranku. Ia menghentikan pekerjaannya dan menghampiri konter
penitipan barang. Aku memperhatikan tumpukan barang yang sedang ia tata, masih
banyak, sepertinya ia baru saja mulai menata barang. Aku menyerahkan tasku pada
pramuniaga itu. ia menerima tasku dan memasukkannya ke loker yang kosong.
Pramuniaga itu memiliki tinggi badan
rata-rata. Badannya ramping dengan rambut sebahu. Wajahnya manis, hanya saja ekspresinya sedikit tidak bersahabat. Dahinya sedikit berkerut dan tak ada
senyum di wajahnya yang terlihat lelah. Mungkin karena ia sudah bekerja dari
pagi. Aku melihat selarik perasaan tertekan di wajahnya, mungkin ia juga sedang
memiliki masalah.
Hatiku tergelitik untuk membuat wajahnya
lebih cerah. Pramuniaga itu memberikan kartu nomor penitipan barang padaku. Aku
tersenyum padanya saat menerima kartu itu. tapi ia sama sekali tak melihat ke
arah wajahku. Gagal, aku hanya bisa mengangkat alis dan berlalu. Kuambil
keranjang belanja dan mulai berkeliling mencari barang titipan ibuku. Setelah
berkeliling aku menuju kasir untuk membayar barang yang kubeli. Aku tak ingin
berlama-lama karena hari sudah sore dan ingin segera sampai rumah.
Usai membayar belanjaan, aku kembali ke
konter penitipan barang untuk mengambil tas yang kutitipkan. Ada seorang pemuda
disana, berbadan tinggi, mengenakan sweater biru muda dan celana jins serta
menenteng tas ransel di salah satu pundaknya. Ia memandang berkeliling mencari
petugas karena ingin menitipkan tasnya, sama seperti saat aku datang tadi. Aku
pun ikut menunggu bersama pemuda itu. sesaat kemudian seorang pramuniaga
datang. Ia adalah pramuniaga yang tadi melayani saat aku menitipkan tas.
Terlebih dahulu ia melayani pemuda yang
ingin menitipkan tasnya. Kuperhatikan ia belum selesai menata barang di lemari
pendingin. Tapi tumpukan barang yang harus ia tata sudah berkurang banyak.
Sebentar lagi ia akan selesai menata barang itu.
Pramuniaga itu beralih padaku setelah
melayani si pemuda bersweater biru muda. Kuserahkan padanya kartu nomor
penitipan barang. Ia mengambilnya dan mencari nomor loker yang sesuai dengan
nomor kartu. Ekspresi pramuniaga itu masih sama seperti sebelumnya, terlihat
lelah. Dan aku masih ingin mengubah ekspresinya tersebut.
Senyum? Bagaimana kalau ia tak melihat
wajahku seperti sebelumnya?
Pramuniaga itu menyerahkan tas yang
kutitipkan. Aku tersenyum padanya saat menerima tasku. Benar saja, ia tak
melihat ke arahku sama seperti sebelumnya. Hmm… kalau begitu yang satu ini
mungkin saja berhasil.
“Terima kasih!” aku memasang senyum
tipis, sedikit khawatir tak berhasil.
Pramuniaga itu mengangkat pandangannya ke
arahku. Ia tampak terpana. Kemudian ia membalas senyumku, wajahnya menjadi
lebih cerah. Spontan aku tersenyum lebih lebar, senang karena dapat membuatnya
tersenyum. Ia terlihat sangat manis saat tersenyum. Aku pun berlalu dari konter
penitipan barang dengan hati riang, masih dengan senyum diwajahku.
Saat berjalan pulang aku berpikir, mungkin
ia sedang memiliki masalah, lelah karena bekerja dari pagi, dan hanya
mengerjakan hal remeh yang mungkin tak disadari oleh orang lain. Tapi ketika
mendapatkan penghargaan untuk hal yang dikerjakan, meskipun hanya hal remeh,
penghargaan itu dapat membuat hati seseorang bersayap. Begitu juga dengan
hatimu yang berusaha membuat orang lain tersenyum.
Well… don’t you feel happy after makes
others smile?
No comments:
Post a Comment