Saturday, 8 February 2014

Sebuah Senyum

Kulangkahkan kaki melewati pintu masuk supermarket yang berada tak jauh dari rumah. Kudekati konter penitipan barang, hendak menitipkan tas yang kubawa. Tak ada petugas disana. Kuedarkan pandangan, mencari pramuniaga yang sedang lengang. Pramuniaga yang bertugas di kasir terdekat sedang sibuk melayani pelanggan. Sepertinya aku harus menunggu.

Seorang pramuniaga yang sedang menata barang di lemari pendingin yang letaknya tak jauh dari konter penitipan barang menyadari kehadiranku. Ia menghentikan pekerjaannya dan menghampiri konter penitipan barang. Aku memperhatikan tumpukan barang yang sedang ia tata, masih banyak, sepertinya ia baru saja mulai menata barang. Aku menyerahkan tasku pada pramuniaga itu. ia menerima tasku dan memasukkannya ke loker yang kosong.

Pramuniaga itu memiliki tinggi badan rata-rata. Badannya ramping dengan rambut sebahu. Wajahnya manis, hanya saja ekspresinya sedikit tidak bersahabat. Dahinya sedikit berkerut dan tak ada senyum di wajahnya yang terlihat lelah. Mungkin karena ia sudah bekerja dari pagi. Aku melihat selarik perasaan tertekan di wajahnya, mungkin ia juga sedang memiliki masalah.

Hatiku tergelitik untuk membuat wajahnya lebih cerah. Pramuniaga itu memberikan kartu nomor penitipan barang padaku. Aku tersenyum padanya saat menerima kartu itu. tapi ia sama sekali tak melihat ke arah wajahku. Gagal, aku hanya bisa mengangkat alis dan berlalu. Kuambil keranjang belanja dan mulai berkeliling mencari barang titipan ibuku. Setelah berkeliling aku menuju kasir untuk membayar barang yang kubeli. Aku tak ingin berlama-lama karena hari sudah sore dan ingin segera sampai rumah.

Usai membayar belanjaan, aku kembali ke konter penitipan barang untuk mengambil tas yang kutitipkan. Ada seorang pemuda disana, berbadan tinggi, mengenakan sweater biru muda dan celana jins serta menenteng tas ransel di salah satu pundaknya. Ia memandang berkeliling mencari petugas karena ingin menitipkan tasnya, sama seperti saat aku datang tadi. Aku pun ikut menunggu bersama pemuda itu. sesaat kemudian seorang pramuniaga datang. Ia adalah pramuniaga yang tadi melayani saat aku menitipkan tas.

Terlebih dahulu ia melayani pemuda yang ingin menitipkan tasnya. Kuperhatikan ia belum selesai menata barang di lemari pendingin. Tapi tumpukan barang yang harus ia tata sudah berkurang banyak. Sebentar lagi ia akan selesai menata barang itu.

Pramuniaga itu beralih padaku setelah melayani si pemuda bersweater biru muda. Kuserahkan padanya kartu nomor penitipan barang. Ia mengambilnya dan mencari nomor loker yang sesuai dengan nomor kartu. Ekspresi pramuniaga itu masih sama seperti sebelumnya, terlihat lelah. Dan aku masih ingin mengubah ekspresinya tersebut.

Senyum? Bagaimana kalau ia tak melihat wajahku seperti sebelumnya?

Pramuniaga itu menyerahkan tas yang kutitipkan. Aku tersenyum padanya saat menerima tasku. Benar saja, ia tak melihat ke arahku sama seperti sebelumnya. Hmm… kalau begitu yang satu ini mungkin saja berhasil.

“Terima kasih!” aku memasang senyum tipis, sedikit khawatir tak berhasil.

Pramuniaga itu mengangkat pandangannya ke arahku. Ia tampak terpana. Kemudian ia membalas senyumku, wajahnya menjadi lebih cerah. Spontan aku tersenyum lebih lebar, senang karena dapat membuatnya tersenyum. Ia terlihat sangat manis saat tersenyum. Aku pun berlalu dari konter penitipan barang dengan hati riang, masih dengan senyum diwajahku.

Saat berjalan pulang aku berpikir, mungkin ia sedang memiliki masalah, lelah karena bekerja dari pagi, dan hanya mengerjakan hal remeh yang mungkin tak disadari oleh orang lain. Tapi ketika mendapatkan penghargaan untuk hal yang dikerjakan, meskipun hanya hal remeh, penghargaan itu dapat membuat hati seseorang bersayap. Begitu juga dengan hatimu yang berusaha membuat orang lain tersenyum.

Well… don’t you feel happy after makes others smile?

No comments:

Post a Comment