Scott
Kubuka mataku, pandanganku tertumbuk pada langit-langit yang suram dan rendah. Aku mengenal ruangan ini, beberapa kali aku dan James dihukum di tempat ini karena kenakalan kami, ruang bawah tanah. Seraut wajah memasuki ruang pandangku, Anne. Ia tersenyum dan berkata bahwa ia senang melihatku telah sadar. Anne duduk di dekatku, aku melihat sebelah pipinya lebam. Aku ingat, ketika ia berusaha melindungiku dari amukan ayah, ayah menamparnya dengan keras. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi karena aku tidak sadar.
Sebuah
ketukan ringan di pintu mengalihkan perhatian Anne yang baru saja selesai
menceritakan padaku apa yang terjadi. Kemudian terdengar kembali sebuah ketukan
berirama yang kukenal, kode yang dibuat James. Kami tahu ketukan itu
memberitahu Anne untuk segera pergi. Anne terlihat ragu untuk pergi, kukatakan
padanya bahwa ia sebaiknya pergi sebelum ketahuan oleh siapapun bahwa ia kemari
mengunjungiku. Anne pun beranjak pergi, ia menaiki tangga menuju pintu dan
menghilang di baliknya.
Kubuka mataku, pandanganku tertumbuk pada langit-langit yang suram dan rendah. Aku mengenal ruangan ini, beberapa kali aku dan James dihukum di tempat ini karena kenakalan kami, ruang bawah tanah. Seraut wajah memasuki ruang pandangku, Anne. Ia tersenyum dan berkata bahwa ia senang melihatku telah sadar. Anne duduk di dekatku, aku melihat sebelah pipinya lebam. Aku ingat, ketika ia berusaha melindungiku dari amukan ayah, ayah menamparnya dengan keras. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi karena aku tidak sadar.
Aku
meminta Anne menceritakan apa yang terjadi. Rupanya setelah ayah menampar Anne,
ia menyuruh pelayan membawaku ke ruang bawah tanah ini dan mengurungku disini. Sementara
James dan Anne dikurung di kamar terpisah dan tidak boleh keluar. Tapi James
berhasil kabur dan membantu Anne agar bisa menyelinap kesini.
Sepeninggal
Anne, aku berusaha mengubah posisiku yang terbaring diatas kain tebal
berlapis. Namun setiap gerakan membuatku meringis kesakitan. Akhirnya aku
kembali ke posisiku semula. Sambil berbaring, aku memikirkan keadaan kami. Entah
berapa lama kami akan dikurung. Ayah bukanlah orang yang mudah memaafkan orang.
Tapi kuharap Anne segera dikeluarkan dan sepertinya James juga tidak akan diam
saja. Meskipun ia bukan pemberontak sepertiku, ia tidak menyukai sifat diktator
ayah.
Aku
terbangun karena keributan, ternyata aku tertidur. Aku mendengar suara teriakan
orang-orang dari luar. Ada sesuatu yang terjadi. Lalu aku menyadari sesuatu,
asap mulai masuk ke dalam ruang bawah tanah melalui sela-sela pintu kayu.
Kebakaran? Asap semakin pekat memasuki ruang bawah tanah. Aku mulai terbatuk
karena asap tersebut dan setiap terbatuk membuat dada juga perutku yang memar
terasa lebih sakit. Pintu lantai bawah tanah yang kusennya mulai terbakar tersentak
membuka. Kulihat Anne bergegas menuruni tangga.
Ia
meraihku dan membantuku berdiri. Sambil berjalan tertatih dan dipapah Anne,
kami berjalan menuju pintu. Saat kami berada di dasar tangga, kusen beserta pintu
yang terbakar runtuh menutupi jalan keluar. Serpihannya yang terbakar beberapa
tercecer ke tangga yang terbuat dari kayu. Anne berteriak meminta tolong
berulang kali. Namun sekeras apapun ia berteriak berkali-kali, tak ada yang
datang. Sepertinya semua orang sudah melarikan diri dan tak ada yang bisa mendengar
suara kami yang kalah oleh raungan api. Aku menyuruh Anne segera pergi sebelum
tangga kayu itu ikut terbakar, namun ia menolak untuk pergi sendiri
meninggalkanku. Aku menoleh ke arah tangga yang mulai terbakar. Sudah terlambat
kesempatan bagi Anne untuk pergi. Anne pun menyadari hal tersebut.
Rasa
bersalah menyelimuti hatiku. Apa yang telah kulakukan membuat Anne ikut ke
dalam bahaya. Aku pun meminta maaf telah menyeret Anne ke dalam masalah. Anne
menghentikan pembicaraanku. Ia mengatakan bahwa ia berterima kasih kepadaku
karena ku selalu membantunya. Ia juga mengatakan, jika tak ada aku dan James
mungkin ia tak akan bisa bertahan dalam rumah ini.
Tangga
kayu yang terbakar mulai runtuh. Serpihannya tercecer di lantai, kami pun
menjauh dari tangga yang terbakar. Asap pekat menyesakkan pernapasan membuat
kami terbatuk-batuk. Anne membawaku kembali ke tumpukan kain yang sebelumnya
digunakan sebagai alasku berbaring. Kami duduk bersisian tanpa mengucapkan satu
patah kata pun. Sesuatu terlintas di benakku, aku tersenyum. Kemudian aku
mengatakannya pada Anne.
No comments:
Post a Comment