Tuesday, 10 June 2014

Life Circle #part 8

Scott
Kubuka mataku, pandanganku tertumbuk pada langit-langit yang suram dan rendah. Aku mengenal ruangan ini, beberapa kali aku dan James dihukum di tempat ini karena kenakalan kami, ruang bawah tanah. Seraut wajah memasuki ruang pandangku, Anne. Ia tersenyum dan berkata bahwa ia senang melihatku telah sadar. Anne duduk di dekatku, aku melihat sebelah pipinya lebam. Aku ingat, ketika ia berusaha melindungiku dari amukan ayah, ayah menamparnya dengan keras. Setelah itu aku tidak tahu apa-apa lagi karena aku tidak sadar.

Aku meminta Anne menceritakan apa yang terjadi. Rupanya setelah ayah menampar Anne, ia menyuruh pelayan membawaku ke ruang bawah tanah ini dan mengurungku disini. Sementara James dan Anne dikurung di kamar terpisah dan tidak boleh keluar. Tapi James berhasil kabur dan membantu Anne agar bisa menyelinap kesini.

Sebuah ketukan ringan di pintu mengalihkan perhatian Anne yang baru saja selesai menceritakan padaku apa yang terjadi. Kemudian terdengar kembali sebuah ketukan berirama yang kukenal, kode yang dibuat James. Kami tahu ketukan itu memberitahu Anne untuk segera pergi. Anne terlihat ragu untuk pergi, kukatakan padanya bahwa ia sebaiknya pergi sebelum ketahuan oleh siapapun bahwa ia kemari mengunjungiku. Anne pun beranjak pergi, ia menaiki tangga menuju pintu dan menghilang di baliknya.

Sepeninggal Anne, aku berusaha mengubah posisiku yang terbaring diatas kain tebal berlapis. Namun setiap gerakan membuatku meringis kesakitan. Akhirnya aku kembali ke posisiku semula. Sambil berbaring, aku memikirkan keadaan kami. Entah berapa lama kami akan dikurung. Ayah bukanlah orang yang mudah memaafkan orang. Tapi kuharap Anne segera dikeluarkan dan sepertinya James juga tidak akan diam saja. Meskipun ia bukan pemberontak sepertiku, ia tidak menyukai sifat diktator ayah.

Aku terbangun karena keributan, ternyata aku tertidur. Aku mendengar suara teriakan orang-orang dari luar. Ada sesuatu yang terjadi. Lalu aku menyadari sesuatu, asap mulai masuk ke dalam ruang bawah tanah melalui sela-sela pintu kayu. Kebakaran? Asap semakin pekat memasuki ruang bawah tanah. Aku mulai terbatuk karena asap tersebut dan setiap terbatuk membuat dada juga perutku yang memar terasa lebih sakit. Pintu lantai bawah tanah yang kusennya mulai terbakar tersentak membuka. Kulihat Anne bergegas menuruni tangga.

Ia meraihku dan membantuku berdiri. Sambil berjalan tertatih dan dipapah Anne, kami berjalan menuju pintu. Saat kami berada di dasar tangga, kusen beserta pintu yang terbakar runtuh menutupi jalan keluar. Serpihannya yang terbakar beberapa tercecer ke tangga yang terbuat dari kayu. Anne berteriak meminta tolong berulang kali. Namun sekeras apapun ia berteriak berkali-kali, tak ada yang datang. Sepertinya semua orang sudah melarikan diri dan tak ada yang bisa mendengar suara kami yang kalah oleh raungan api. Aku menyuruh Anne segera pergi sebelum tangga kayu itu ikut terbakar, namun ia menolak untuk pergi sendiri meninggalkanku. Aku menoleh ke arah tangga yang mulai terbakar. Sudah terlambat kesempatan bagi Anne untuk pergi. Anne pun menyadari hal tersebut.

Rasa bersalah menyelimuti hatiku. Apa yang telah kulakukan membuat Anne ikut ke dalam bahaya. Aku pun meminta maaf telah menyeret Anne ke dalam masalah. Anne menghentikan pembicaraanku. Ia mengatakan bahwa ia berterima kasih kepadaku karena ku selalu membantunya. Ia juga mengatakan, jika tak ada aku dan James mungkin ia tak akan bisa bertahan dalam rumah ini.

Tangga kayu yang terbakar mulai runtuh. Serpihannya tercecer di lantai, kami pun menjauh dari tangga yang terbakar. Asap pekat menyesakkan pernapasan membuat kami terbatuk-batuk. Anne membawaku kembali ke tumpukan kain yang sebelumnya digunakan sebagai alasku berbaring. Kami duduk bersisian tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Sesuatu terlintas di benakku, aku tersenyum. Kemudian aku mengatakannya pada Anne.

No comments:

Post a Comment