Aku
berjalan menyusuri jalan kecil menuju bagian belakang sekolah. Mulai hari ini
sekolah selesai lebih awal karena ada pelajaran dansa bagi seluruh murid untuk
menyambut pesta dansa tahunan sebelum liburan musim dingin tiba yang akan
diadakan 2 minggu lagi. Para siswa dan siswi yang sehari-hari berbeda kini
memperoleh kesempatan untuk berdansa berpasangan. Karena aku belum mengenal
seorang pun siswa yang ada, kuputuskan untuk berjalan-jalan di sekitar area
sekolah. Hingga sampailah aku di tepi sebuah danau kecil.
Napasku
tercekat melihat keindahan danau kecil itu. Danau itu berkilau keperakan
dibawah langit musim dingin. Onggokan salju terlihat di beberapa tempat, sisa
salju yang turun beberapa hari belakangan ini. Warna hijau pohon-pohon pinus
terlihat kontras dengan kilau keperakan danau, membuat keindahan tersendiri di
musim dingin seperti sekarang ini.
Ketika
aku membuka mata, langit sudah hampir gelap. Rupanya aku tertidur. Dari
sudut mata aku menangkap satu sosok di sampingku. Aku menoleh. Seorang pemuda
duduk di ujung kanan kursi taman yang kududuki. Pemuda itu terlihat sedang
memandangi danau. Dalam hati aku bertanya-tanya, sejak kapan ia ada disana.
Sepertinya
ia menyadari kalau aku sudah bangun dan menatapnya. Ia menoleh ke arahku.
Sebuah senyum tersungging di wajahnya.
“Halo.
Kau sudah bangun rupanya? Sebaiknya jangan tidur di tempat seperti ini. Kau
bisa mati kedinginan,” ujar pemuda itu ramah.
Aku
merasakan mukaku memanas. Segera kualihkan mukaku. “Aku sendiri tidak menyangka
akan tertidur di tempat seperti ini,” jawabku malu.
Pemuda
itu tertawa pelan.
“Apa
kau tahu sekarang jam berapa?” tanyaku.
Pemuda
itu mengeluarkan sebuah jam saku dari saku mantelnya. “Sebentar lagi jam makan
malam,” jawabnya.
“Kalau
begitu kita harus segera kembali ke asrama,” ucapku sambil berdiri.
Aku
pun kembali ke arah asrama sambil berjalan beriringan dengan pemuda itu. Lalu
kami sampai di percabangan jalan yang terletak tak jauh dari gedung sekolah.
Untuk kembali ke asrama putri aku harus mengambil jalan ke arah kiri sementara
pemuda itu harus mengambil jalan ke kanan.
“Baiklah.
Kalau begitu sampai disini saja ya,” ucap pemuda itu.
Aku
menoleh ke belakang, ke arah danau tempat kami bertemu. Rasanya waktu begitu
cepat berlalu, entah kenapa aku masih ingin bersama dengannya. Lalu aku
memandang pemuda yang kutemui di danau.
“Apa
besok kau akan ke danau lagi?” tanyaku.
“Kalau
bisa bertemu denganmu di sana, aku akan kesana setiap hari.”
Aku
hanya tertawa mendengar jawabannya.
“Sampai
jumpa besok,” ucapku.
“Sampai
jumpa,” balasnya.
Lalu
kami pun berpisah jalan, menuju ke asrama masing-masing. Sambil berjalan ke
asrama aku baru teringat sesuatu.
“Aku
lupa tidak menanyakan namanya” gumamku. “Yah... tidak apa. Akan kutanyakan
besok.”
No comments:
Post a Comment