Tuesday, 17 June 2014

Waltz in Dream #part 1

Aku berjalan menyusuri jalan kecil menuju bagian belakang sekolah. Mulai hari ini sekolah selesai lebih awal karena ada pelajaran dansa bagi seluruh murid untuk menyambut pesta dansa tahunan sebelum liburan musim dingin tiba yang akan diadakan 2 minggu lagi. Para siswa dan siswi yang sehari-hari berbeda kini memperoleh kesempatan untuk berdansa berpasangan. Karena aku belum mengenal seorang pun siswa yang ada, kuputuskan untuk berjalan-jalan di sekitar area sekolah. Hingga sampailah aku di tepi sebuah danau kecil.

Napasku tercekat melihat keindahan danau kecil itu. Danau itu berkilau keperakan dibawah langit musim dingin. Onggokan salju terlihat di beberapa tempat, sisa salju yang turun beberapa hari belakangan ini. Warna hijau pohon-pohon pinus terlihat kontras dengan kilau keperakan danau, membuat keindahan tersendiri di musim dingin seperti sekarang ini.

Meski tiupan angin dingin membuatku mengeratkan mantel yang kupakai, aku masih ingin menikmati keindahan ini. Sebelum indahnya musim semi tiba menggantikan indahnya musim dingin ini. Aku berjalan mendekati satu-satunya kursi taman yang ada dan duduk di ujung kiri. Sesekali, sinar matahari yang mengintip dari balik awan membuat kilau keperakan danau berubah menjadi keemasan. Kupejamkan mata, berusaha mematri pemandangan indah ini dalam ingatan.

Ketika aku membuka mata, langit sudah hampir gelap. Rupanya aku tertidur. Dari sudut mata aku menangkap satu sosok di sampingku. Aku menoleh. Seorang pemuda duduk di ujung kanan kursi taman yang kududuki. Pemuda itu terlihat sedang memandangi danau. Dalam hati aku bertanya-tanya, sejak kapan ia ada disana.

Sepertinya ia menyadari kalau aku sudah bangun dan menatapnya. Ia menoleh ke arahku. Sebuah senyum tersungging di wajahnya.

“Halo. Kau sudah bangun rupanya? Sebaiknya jangan tidur di tempat seperti ini. Kau bisa mati kedinginan,” ujar pemuda itu ramah.

Aku merasakan mukaku memanas. Segera kualihkan mukaku. “Aku sendiri tidak menyangka akan tertidur di tempat seperti ini,” jawabku malu.

Pemuda itu tertawa pelan.

“Apa kau tahu sekarang jam berapa?” tanyaku.

Pemuda itu mengeluarkan sebuah jam saku dari saku mantelnya. “Sebentar lagi jam makan malam,” jawabnya.

“Kalau begitu kita harus segera kembali ke asrama,” ucapku sambil berdiri.

Aku pun kembali ke arah asrama sambil berjalan beriringan dengan pemuda itu. Lalu kami sampai di percabangan jalan yang terletak tak jauh dari gedung sekolah. Untuk kembali ke asrama putri aku harus mengambil jalan ke arah kiri sementara pemuda itu harus mengambil jalan ke kanan.

“Baiklah. Kalau begitu sampai disini saja ya,” ucap pemuda itu.

Aku menoleh ke belakang, ke arah danau tempat kami bertemu. Rasanya waktu begitu cepat berlalu, entah kenapa aku masih ingin bersama dengannya. Lalu aku memandang pemuda yang kutemui di danau.

“Apa besok kau akan ke danau lagi?” tanyaku.

“Kalau bisa bertemu denganmu di sana, aku akan kesana setiap hari.”

Aku hanya tertawa mendengar jawabannya.

“Sampai jumpa besok,” ucapku.

“Sampai jumpa,” balasnya.

Lalu kami pun berpisah jalan, menuju ke asrama masing-masing. Sambil berjalan ke asrama aku baru teringat sesuatu.

“Aku lupa tidak menanyakan namanya” gumamku. “Yah... tidak apa. Akan kutanyakan besok.”

No comments:

Post a Comment