Agak
terburu aku berjalan menuju danau. Karena ada tugas yang harus kuselesaikan,
aku baru saja keluar dari kelas. Saat sampai di danau kulihat Nathi duduk kursi
taman sembari memandangi jam sakunya. Segera aku menghampirinya.
“Maaf,
aku terlambat. Ada tugas yang harus kuselesaikan,”
Nathi
mengangkat wajahnya dan tersenyum. “Tak apa. Duduklah,”
Aku
pun duduk di sampingnya. Sementara Nathi kembali terpekur memandangi jam
sakunya. Setelah cukup lama berdiam diri, kuberanikan untuk bertanya.
“Jam
itu pasti sangat berarti bagimu ya?”
“Ini
bukti keberadaanku,”
Aku
memandangnya tak mengerti.
“Ah,
maaf. Lupakan saja,” ucap Nathi tiba-tiba. “Jam ini hadiah dari ibuku.”
“Oh
begitu.”
Ia
mengajakku berbincang seperti biasa, tapi ia terlihat sering melamun. Terkadang
aku harus mengulangi apa yang aku katakan. Sikapnya yang tak biasa membuatku
cemas. Tak tahu harus bagaimana, kubiarkan ia melamun memandangi jam sakunya.
Aku hanya duduk diam menemani sambil memandangi danau.
No comments:
Post a Comment