Monday, 21 July 2014

Waltz in Dream #part 3

Sambil berjalan menyusuri jalan menuju danau, aku bertanya-tanya apakah pemuda itu sudah berada di danau atau belum. Kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku mantel karena dinginnya cuaca, saat itulah jemariku merasakan adanya secarik kertas. Aku pun kemudian teringat bahwa semalam aku memasukkannya ke dalam saku mantel untuk mengingatkanku menanyakan nama pemuda itu.

Aku memainkan kertas itu dalam saku mantel dan bertekad menanyakan nama pemuda itu begitu aku bertemu dengannya. Saat aku sampai, kulihat ia sedang berdiri di tepi danau dan menatap langit. Ia memalingkan wajahnya ke arahku dan tersenyum, ia menyadari kedatanganku. Aku segera menghampirinya.

“Nama?”

Pemuda itu terkejut. Kemudian aku menyadari bahwa biasanya orang akan menyapa terlebih dahulu sebelum menanyakan nama. Terlebih lagi nada suara yang kugunakan hampir terdengar seperti bentakan. Mukaku memanas, aku menundukkan kepala, malu.

“Maaf. Aku penasaran dengan namamu. Kita sudah berbincang sebelumnya tapi kita tak pernah saling mengenalkan diri,” ujarku malu.

“Tak apa,”

Rasanya ada senyum dalam suaranya. Hening sejenak. Tak ada satupun di antara kami yang berbicara. Aku mulai gelisah, tak tahu harus melakukan apa.

“Namaku Nathi,” ucap pemuda itu memecah kesunyian. “Bolehkah kutahu namamu?”

Kudongakkan kepalaku dan menatap matanya yang biru, “Amber Davenport,”

“Amber? Pasti karena warna matamu yang indah,”

Aku tersipu, tak menyangka akan dipuji. Orang tuaku memang memberiku nama Amber karena warna mataku yang mirip dengan batu amber. Orang lain biasanya dapat dengan mudah menebak asal namaku, tapi baru kali ini ada orang yang menebaknya sambil memuji.

No comments:

Post a Comment