Sambil
berjalan menyusuri jalan menuju danau, aku bertanya-tanya apakah pemuda itu
sudah berada di danau atau belum. Kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku
mantel karena dinginnya cuaca, saat itulah jemariku merasakan adanya secarik
kertas. Aku pun kemudian teringat bahwa semalam aku memasukkannya ke dalam saku
mantel untuk mengingatkanku menanyakan nama pemuda itu.
Aku
memainkan kertas itu dalam saku mantel dan bertekad menanyakan nama pemuda itu
begitu aku bertemu dengannya. Saat aku sampai, kulihat ia sedang berdiri di
tepi danau dan menatap langit. Ia memalingkan wajahnya ke arahku dan tersenyum,
ia menyadari kedatanganku. Aku segera menghampirinya.
“Nama?”
Pemuda
itu terkejut. Kemudian aku menyadari bahwa biasanya orang akan menyapa terlebih
dahulu sebelum menanyakan nama. Terlebih lagi nada suara yang kugunakan hampir
terdengar seperti bentakan. Mukaku memanas, aku menundukkan kepala, malu.
“Maaf.
Aku penasaran dengan namamu. Kita sudah berbincang sebelumnya tapi kita tak
pernah saling mengenalkan diri,” ujarku malu.
“Tak
apa,”
Rasanya
ada senyum dalam suaranya. Hening sejenak. Tak ada satupun di antara kami yang
berbicara. Aku mulai gelisah, tak tahu harus melakukan apa.
“Namaku
Nathi,” ucap pemuda itu memecah kesunyian. “Bolehkah kutahu namamu?”
Kudongakkan
kepalaku dan menatap matanya yang biru, “Amber Davenport,”
“Amber?
Pasti karena warna matamu yang indah,”
Aku
tersipu, tak menyangka akan dipuji. Orang tuaku memang memberiku nama Amber
karena warna mataku yang mirip dengan batu amber. Orang lain biasanya dapat
dengan mudah menebak asal namaku, tapi baru kali ini ada orang yang menebaknya
sambil memuji.
No comments:
Post a Comment