Sambil
berjalan menuju danau, aku memikirkan tingkah Nathi yang aneh tiga hari yang
lalu. Lalu, dua hari yang lalu dan kemarin ia tak datang ke danau. Hal itu
membuatku bertanya-tanya, apakah ia tidak akan datang lagi hari ini. Kuhentikan
langkah.
Aku
memandang ke arah danau, sudah separuh jalan aku menyusuri jalan yang biasa
kulalui. Aku menghela napas, tiba-tiba aku jadi tak ingin datang ke danau. Aku
hampir membalikkan badan dan kembali ke asrama ketika sebuah tepukan ringan
mendarat di bahu kiriku. Aku menoleh. Nathi berdiri di belakangku sambil
tersenyum.
“Oh,
kau disini,”
Aku
menoleh ke arah danau. “Ya,” jawabku setelah berpikir sesaat.
Kami
berjalan bersisian menuju danau, menyusuri jalan setapak yang tertutup oleh
salju tipis. Sejak semalam salju mulai turun dan perlahan mulai menutupi
permukaan tanah. Suara salju yang terinjak terdengar renyah mengisi kesunyian
yang menggantung diantara kami.
“Aku
ingin minta maaf karena selama beberapa hari yang lalu tidak bisa menemuimu di
danau,” ucap Nathi memecah kesunyian saat kami hampir mencapai danau.
“Ah,
tidak apa-apa kok. Lagipula ada hal lain yang harus kukerjakan,” ucapku.
Memang
benar ada hal lain yang kukerjakan, tapi bukan hal yang penting. Aku pun tak
memberitahu bahwa setiap hari aku menyempatkan diri untuk memeriksa apakah ia
datang ke danau.
“Latihan
dansa bukan?” tanyanya. Kami sudah mencapai tepi danau.
“Sebenarnya
bukan,” ragu-ragu aku menjawab. “Aku tidak yakin akan datang ke pesta dansa
akhir tahun.”
“Mengapa?”
tanya Nathi.
Tak
yakin bagaimana menjawab pertanyaan tersebut, aku pun hanya mengangkat bahu.
“Apa
itu berarti kau belum memiliki pasangan untuk pesta dansa?” tanyanya lagi.
Aku
hanya diam, enggan menjawab.
“Kalau
begitu, bersediakah kau menjadi pasanganku?” tanya Nathi. “Sebenarnya aku juga
berencana tidak datang ke pesta dansa. Tapi aku berubah pikiran setelah bertemu
denganmu,” lanjutnya.
Aku
memandangnya lama. Menimbang ajakannya tersebut. “Apa kau mengajakku karena kau
belum mendapat pasangan?” tanyaku sangsi.
Nathi
tertawa. “Hmm… sebagian dari alasanku,” jawabnya sambil tersenyum usil.
Aku
mengalihkan pandangan dengan perasaan kesal.
“Pada
awalnya aku memang tidak berencana untuk datang ke pesta dansa karena aku harus
pulang lebih awal,”
“Meskipun
kita sudah bisa pulang saat libur dimulai tiga hari setelah pesta dansa?”
tanyaku heran.
“Ya.
Aku harus pulang sehari setelah pesta dansa,” jawabnya.
“Eh?”
Nathi
tersenyum. “Jadi, apa kau mau menjadi pasangan dansaku?” tanyanya sambil
menyodorkan tangan kanannya padaku.
“Aku
tidak pandai berdansa,” kataku jujur.
Tangan
kanan Nathi mengamit tangan kiriku dan meletakkannya di pundaknya kemudian ia
menaruh tangan kanannya di tulang belikat kiriku. Sementara tangan
kirinya membawa tangan kananku ke samping dan menggenggamnya setinggi mata.
“Kau
mau berdansa disini?” tanyaku ragu saat menyadari pose dansa yang kami buat.
“Ya,”
jawabnya yakin. “Ikuti saja langkahku,”
Nathi
mulai melangkah dan aku mengikutinya. Kami berdua berdansa di pinggir danau
yang hampir membeku tanpa iringan musik. Namun, memandang ke arah mata birunya
yang dalam, seakan aku bisa mendengar sebuah irama. Sebuah simfoni yang hanya
bisa didengar kami berdua.
“Menurutku
kau cukup pandai berdansa,” katanya sambil tersenyum.
Aku
hanya mengedikkan bahu kananku sambil tersenyum malu. Tiba-tiba saja kami oleng
dan terjatuh bersama-sama.
“Sepertinya
bukan ide yang bagus untuk berdansa di tempat yang tidak rata,” ucap Nathi
sambil memandang ke sekitar.
Aku
memandang Nathi yang juga terduduk di atas salju sepertiku. Kami berdua
memasang tampang geli kemudian tertawa bersama, tanpa mengerti apa yang
sebenarnya membuat kami merasa lucu.
No comments:
Post a Comment