Sunday, 9 November 2014

Waltz in Dream #part 5

Sambil berjalan menuju danau, aku memikirkan tingkah Nathi yang aneh tiga hari yang lalu. Lalu, dua hari yang lalu dan kemarin ia tak datang ke danau. Hal itu membuatku bertanya-tanya, apakah ia tidak akan datang lagi hari ini. Kuhentikan langkah.

Aku memandang ke arah danau, sudah separuh jalan aku menyusuri jalan yang biasa kulalui. Aku menghela napas, tiba-tiba aku jadi tak ingin datang ke danau. Aku hampir membalikkan badan dan kembali ke asrama ketika sebuah tepukan ringan mendarat di bahu kiriku. Aku menoleh. Nathi berdiri di belakangku sambil tersenyum.

“Oh, kau disini,”

“Apa kau masih ingin melanjutkan pergi ke danau?” tanyanya seakan mengetahui apa yang kupikirkan sebelumnya.

Aku menoleh ke arah danau. “Ya,” jawabku setelah berpikir sesaat.

Kami berjalan bersisian menuju danau, menyusuri jalan setapak yang tertutup oleh salju tipis. Sejak semalam salju mulai turun dan perlahan mulai menutupi permukaan tanah. Suara salju yang terinjak terdengar renyah mengisi kesunyian yang menggantung diantara kami.

“Aku ingin minta maaf karena selama beberapa hari yang lalu tidak bisa menemuimu di danau,” ucap Nathi memecah kesunyian saat kami hampir mencapai danau.

“Ah, tidak apa-apa kok. Lagipula ada hal lain yang harus kukerjakan,” ucapku.

Memang benar ada hal lain yang kukerjakan, tapi bukan hal yang penting. Aku pun tak memberitahu bahwa setiap hari aku menyempatkan diri untuk memeriksa apakah ia datang ke danau.

“Latihan dansa bukan?” tanyanya. Kami sudah mencapai tepi danau.

“Sebenarnya bukan,” ragu-ragu aku menjawab. “Aku tidak yakin akan datang ke pesta dansa akhir tahun.”

“Mengapa?” tanya Nathi.

Tak yakin bagaimana menjawab pertanyaan tersebut, aku pun hanya mengangkat bahu.


“Apa itu berarti kau belum memiliki pasangan untuk pesta dansa?” tanyanya lagi.

Aku hanya diam, enggan menjawab.

“Kalau begitu, bersediakah kau menjadi pasanganku?” tanya Nathi. “Sebenarnya aku juga berencana tidak datang ke pesta dansa. Tapi aku berubah pikiran setelah bertemu denganmu,” lanjutnya.

Aku memandangnya lama. Menimbang ajakannya tersebut. “Apa kau mengajakku karena kau belum mendapat pasangan?” tanyaku sangsi.

Nathi tertawa. “Hmm… sebagian dari alasanku,” jawabnya sambil tersenyum usil.

Aku mengalihkan pandangan dengan perasaan kesal.

“Pada awalnya aku memang tidak berencana untuk datang ke pesta dansa karena aku harus pulang lebih awal,”

“Meskipun kita sudah bisa pulang saat libur dimulai tiga hari setelah pesta dansa?” tanyaku heran.

“Ya. Aku harus pulang sehari setelah pesta dansa,” jawabnya.

“Eh?”

Nathi tersenyum. “Jadi, apa kau mau menjadi pasangan dansaku?” tanyanya sambil menyodorkan tangan kanannya padaku.

“Aku tidak pandai berdansa,” kataku jujur.

Tangan kanan Nathi mengamit tangan kiriku dan meletakkannya di pundaknya kemudian ia menaruh tangan kanannya di tulang belikat kiriku. Sementara tangan kirinya membawa tangan kananku ke samping dan menggenggamnya setinggi mata.

“Kau mau berdansa disini?” tanyaku ragu saat menyadari pose dansa yang kami buat.

“Ya,” jawabnya yakin. “Ikuti saja langkahku,”

Nathi mulai melangkah dan aku mengikutinya. Kami berdua berdansa di pinggir danau yang hampir membeku tanpa iringan musik. Namun, memandang ke arah mata birunya yang dalam, seakan aku bisa mendengar sebuah irama. Sebuah simfoni yang hanya bisa didengar kami berdua.

“Menurutku kau cukup pandai berdansa,” katanya sambil tersenyum.

Aku hanya mengedikkan bahu kananku sambil tersenyum malu. Tiba-tiba saja kami oleng dan terjatuh bersama-sama.

“Sepertinya bukan ide yang bagus untuk berdansa di tempat yang tidak rata,” ucap Nathi sambil memandang ke sekitar.

Aku memandang Nathi yang juga terduduk di atas salju sepertiku. Kami berdua memasang tampang geli kemudian tertawa bersama, tanpa mengerti apa yang sebenarnya membuat kami merasa lucu.

No comments:

Post a Comment