Monday, 8 December 2014

Waltz in Dream #part 6

“Tak biasanya,” ucap Jade saat kami melangkah memasuki aula.

“Apanya?” tanyaku tak mengerti, meskipun sedikit banyak aku dapat menebak arah pembicaraannya.

“Kau selalu menolak saat kuajak latihan. Tapi kali ini, tak kuajak pun, kau menemaniku hingga aula,” ucap Jade.

Kami berjalan menuju salah satu jendela besar yang menghiasi dinding ruangan. Jendela-jendela itu membuat aula mendapat cahaya berlimpah dari luar. Di aula sudah ada beberapa siswa dan siswi, lagupun sudah mengalun dari sebuah gramofon di sisi aula. Namun belum ada yang mulai berlatih berpasangan. Melihat hal tersebut, aku berasumsi bahwa pasangan dansa mereka belum datang. Atau mungkin mereka masih ingin berbincang dengan teman sambil menunggu murid yang lain datang.

“Lalu, mengapa kali ini kau datang ke aula?” tanya Jade.

“Umm… ada yang mengajakku.”

Mata Jade melebar, terkejut. Kemudian ia tersenyum. “Akhirnya kau menerima ajakan seseorang.”

“Ah… ya,” aku tersenyum malu.

Sebelumnya ada beberapa siswa yang mengajakku menjadi pasangan dansa. Namun, aku tidak merasa nyaman untuk menerima ajakan tersebut.

“Siapa yang mengajakmu?”

“Nathi,”

“Nathi? Hmm… rasanya aku belum pernah mendengar nama itu. Apa nama keluarganya?”

“Ah… aku lupa tidak menanyakannya,”

“Hai!” seorang siswa datang menghampiri kami yang sedang berbincang.

“Hai!” balas Jade riang.

Aku memerhatikan mereka bertukar sapa. Jade terlihat berbeda dari biasanya. Gadis periang itu terlihat lebih cantik dan bercahaya.

Jade mengalihkan pandangannya padaku. “Kenalkan ini Amber!” ucap Jade pada siswa itu sambil menyentuh bahuku. Kemudian ia beralih padaku, “Amber, ini Aaron. Ia pasangan dansaku,”

“Hai! Aku mendengar tentangmu dari Jade,” ia menjabat tanganku. “Kau baru saja pindah bukan? Apa kau sudah mulai terbiasa disini?” tanya Aaron ramah.

“Yah… Jade banyak membantuku,”

“Jade bilang ia senang karena akhirnya punya teman sekamar,” ucap Aaron.

“Tentu saja!” Jade memeluk bahuku. “Akan sangat membosankan jika tidak punya teman sekamar hingga tahun ajaran berakhir,”

Aku tertawa. Setelah berbincang-bincang sebentar, aku pun menyuruh mereka berdua untuk latihan dansa. Meski aku tahu, Jade akan keberatan meninggalkanku sendiri karna Nathi belum datang.

“Tak apa. Sebentar lagi pasanganku akan datang. Kalian latihan saja duluan,” ujarku.

“Baiklah…” Jade terlihat enggan.

Jade dan Aaron lalu beranjak ke tengah aula dan mulai latihan, mengikuti beberapa pasang lainnya yang sudah terlebih dahulu berdansa. Aku memerhatikan mereka berdansa, melangkah ke samping, ke belakang, berputar mengikuti irama lagu. Jade terlihat anggun dan luwes. Aku ingin bisa berdansa seperti itu. Aku harus berlatih agar kecanggunganku saat berdansa bisa terus berkurang. Beberapa pasang murid lainnya mulai melangkah ke tengah aula dan mulai berdansa. Aula mulai terlihat ramai dengan pasangan yang berlatih.

Saat memandangi para murid berlatih, dari sudut mata aku melihat serombongan siswa masuk ke dalam aula. Aku menoleh ke arah mereka. Kulihat Nathi berjalan bersama mereka, mendengarkan teman-temannya berbincang dan tertawa bersama. Sepertinya ia merasakan bahwa ada yang memandanginya, ia mengalihkan pandangan dari teman-temannya. Ia menoleh ke arahku kemudian tersenyum. Aku melihat Nathi mengatakan sesuatu pada teman-temannya kemudian berpisah dari mereka dan berjalan ke arahku.

“Hai!” sapanya saat berhenti di depanku.

“Hai!”

“Apa kau menunggu lama?”

“Tidak juga,”

“Jadi…”

Aku memandang bingung pada Nathi yang tidak biasanya terlihat canggung. Kemudian ia mengangsurkan tangan kanannya padaku.

“Bersediakah kau?” tanyanya seraya tersenyum.

Aku menatap mata birunya dan tersenyum. Kemudian kusambut uluran tangannya. Nathi menuntunku ke tengah aula, diantara pasangan lain yang sedang berdansa. Kami memberi hormat kepada satu sama lain, lalu kami mengambil sikap untuk berdansa. Tangan kananku dan tangan kirinya saling menggenggam setinggi mata di sisi, tangan kiri kuletakkan di pundak kanannya, dan tangan kanannya ia posisikan di tulang belikat kiriku. Kami pun turut berdansa diantara pasangan yang lain.

No comments:

Post a Comment