“Tak
biasanya,” ucap Jade saat kami melangkah memasuki aula.
“Apanya?”
tanyaku tak mengerti, meskipun sedikit banyak aku dapat menebak arah
pembicaraannya.
“Kau
selalu menolak saat kuajak latihan. Tapi kali ini, tak kuajak pun, kau
menemaniku hingga aula,” ucap Jade.
“Lalu,
mengapa kali ini kau datang ke aula?” tanya Jade.
“Umm…
ada yang mengajakku.”
Mata
Jade melebar, terkejut. Kemudian ia tersenyum. “Akhirnya kau menerima ajakan
seseorang.”
“Ah…
ya,” aku tersenyum malu.
Sebelumnya
ada beberapa siswa yang mengajakku menjadi pasangan dansa. Namun, aku tidak
merasa nyaman untuk menerima ajakan tersebut.
“Siapa
yang mengajakmu?”
“Nathi,”
“Nathi?
Hmm… rasanya aku belum pernah mendengar nama itu. Apa nama keluarganya?”
“Ah…
aku lupa tidak menanyakannya,”
“Hai!”
seorang siswa datang menghampiri kami yang sedang berbincang.
“Hai!”
balas Jade riang.
Aku
memerhatikan mereka bertukar sapa. Jade terlihat berbeda dari biasanya. Gadis
periang itu terlihat lebih cantik dan bercahaya.
Jade
mengalihkan pandangannya padaku. “Kenalkan ini Amber!” ucap Jade pada siswa itu
sambil menyentuh bahuku. Kemudian ia beralih padaku, “Amber, ini Aaron. Ia
pasangan dansaku,”
“Hai!
Aku mendengar tentangmu dari Jade,” ia menjabat tanganku. “Kau baru saja pindah
bukan? Apa kau sudah mulai terbiasa disini?” tanya Aaron ramah.
“Yah…
Jade banyak membantuku,”
“Jade
bilang ia senang karena akhirnya punya teman sekamar,” ucap Aaron.
“Tentu
saja!” Jade memeluk bahuku. “Akan sangat membosankan jika tidak punya teman
sekamar hingga tahun ajaran berakhir,”
Aku
tertawa. Setelah berbincang-bincang sebentar, aku pun menyuruh mereka berdua
untuk latihan dansa. Meski aku tahu, Jade akan keberatan meninggalkanku sendiri
karna Nathi belum datang.
“Tak
apa. Sebentar lagi pasanganku akan datang. Kalian latihan saja duluan,” ujarku.
“Baiklah…”
Jade terlihat enggan.
Jade
dan Aaron lalu beranjak ke tengah aula dan mulai latihan, mengikuti beberapa
pasang lainnya yang sudah terlebih dahulu berdansa. Aku memerhatikan mereka
berdansa, melangkah ke samping, ke belakang, berputar mengikuti irama lagu. Jade
terlihat anggun dan luwes. Aku ingin bisa berdansa seperti itu. Aku harus
berlatih agar kecanggunganku saat berdansa bisa terus berkurang. Beberapa pasang
murid lainnya mulai melangkah ke tengah aula dan mulai berdansa. Aula mulai
terlihat ramai dengan pasangan yang berlatih.
Saat
memandangi para murid berlatih, dari sudut mata aku melihat serombongan siswa
masuk ke dalam aula. Aku menoleh ke arah mereka. Kulihat Nathi berjalan bersama
mereka, mendengarkan teman-temannya berbincang dan tertawa bersama. Sepertinya ia
merasakan bahwa ada yang memandanginya, ia mengalihkan pandangan dari
teman-temannya. Ia menoleh ke arahku kemudian tersenyum. Aku melihat Nathi
mengatakan sesuatu pada teman-temannya kemudian berpisah dari mereka dan
berjalan ke arahku.
“Hai!”
sapanya saat berhenti di depanku.
“Hai!”
“Apa
kau menunggu lama?”
“Tidak
juga,”
“Jadi…”
Aku
memandang bingung pada Nathi yang tidak biasanya terlihat canggung. Kemudian ia
mengangsurkan tangan kanannya padaku.
“Bersediakah
kau?” tanyanya seraya tersenyum.
Aku
menatap mata birunya dan tersenyum. Kemudian kusambut uluran tangannya. Nathi
menuntunku ke tengah aula, diantara pasangan lain yang sedang berdansa. Kami memberi
hormat kepada satu sama lain, lalu kami mengambil sikap untuk berdansa. Tangan kananku
dan tangan kirinya saling menggenggam setinggi mata di sisi, tangan kiri
kuletakkan di pundak kanannya, dan tangan kanannya ia posisikan di tulang
belikat kiriku. Kami pun turut berdansa diantara pasangan yang lain.
No comments:
Post a Comment