Friday, 26 December 2014

Waltz in Dream #part 7

Seluruh murid yang mengikuti pesta dansa akhir tahun sudah berkumpul di aula utama. Aula utama yang digunakan untuk pesta dansa akhir tahun ini lebih luas dari aula yang dipakai untuk latihan dansa. Langit-langitnya tinggi dengan kandil megah yang dihiasi kristal tergantung tepat di tengah ruangan. Pilar-pilarnya berwarna putih dengan ornamen emas. Lantainya dari pualam berwarna putih dengan sedikit corak berwarna merah jambu.

Di lantai dasar, sekelompok pemain orkestra sedang bersiap di atas sebuah panggung rendah, terletak di salah satu sisi aula yang berhadapan dengan pintu utama. Para siswa yang mengikuti pesta dansa menunggu di bagian sisi aula lantai dasar, sementara para siswi menunggu di balkon lantai dua. Dari atas, aku dapat melihat Nathi sedang berbincang dengan teman-temannya. Kemudian ia menoleh ke arah balkon dan memandang berkeliling sampai ia menemukanku yang sedang memandang ke arahnya. Aku melambaikan tangan ke arahnya dan ia membalas lambaian tanganku sambil tersenyum.

Nathi mengalihkan pandangannya kembali pada teman-temannya setelah salah satu dari mereka menepuk pundaknya. Setelah memerhatikannya sejenak, aku pun mengalihkan perhatianku pada sepasang tangga yang mengapit pintu utama. Di sepanjang anak tangga sudah berdiri dua puluh pasang siswa dan siswi yang akan membuka pesta dansa akhir tahun ini. Mereka berdiri berdampingan dengan pasangan masing-masing, dimulai dari anak tangga terbawah dari bawah hingga anak tangga teratas. Di antara kedua puluh pasangan itu, aku melihat Jade dan Aaron disana.

Wakil kepala sekolah berjalan ke tengah ruangan, beliau memberikan sambutan dan membuka acara pesta dansa akhir tahun. Para murid bertepuk tangan setelah mendengar sambutan dari wakil kepala sekolah. Setelah wakil kepala sekolah beranjak dari tengah ruangan, perlahan musik mulai mengalun. Kedua puluh pasang murid yang berjajar di anak tangga perlahan mulai beranjak ke tengah aula dan membentuk sebuah lingkaran besar. Mereka saling berhadapan dengan pasangan masing-masing.

Para siswa membungkuk memberi hormat, sesaat kemudian para siswi membalas dengan menekukkan lutut. Kemudian mereka menegakkan badan bersama-sama dan bersiap dalam posisi dansa. Irama musik pun berubah, dari intro dengan tempo lambat berubah menjadi musik dengan tempo yang riang. Kedua puluh pasang murid yang berada di tengah lantai dansa berdansa berputar dalam sebuah lingkaran besar, mengikuti koreografi yang telah mereka latih. Mereka adalah pasangan terbaik yang dipilih untuk membuka pesta dansa akhir tahun.

“Sebentar lagi mereka akan selesai. Bersiaplah!”

Aku menoleh ke arah sumber suara. Terlihat ketua asrama putri, Meredith Howe, yang turut mengawasi jalannya pesta dansa akhir tahun berjalan berkeliling memberi arahan pada para siswi. Para siswi akan turun ke lantai dasar dalam dua barisan menyusuri kedua anak tangga setelah dansa pembuka selesai. Kemudian para siswa akan menyambut masing-masing pasangan mereka di bawah anak tangga.

“Aku senang kau bisa ikut pesta dansa akhir tahun di tahun pertama kau pindah ke sekolah ini,” Meredith berhenti di depanku yang berada di bagian akhir barisan karna aku mendaftar di hari terakhir pendaftaran pesta dansa.

“Terima kasih,” ucapku. “Lalu bagaimana denganmu? Apa dengan tugasmu kau bisa menikmati pesta dansa? Sepertinya tugasmu tidak mudah”.

“Oh, tenang saja. Setelah kalian mulai berdansa, hanya ada beberapa hal yang harus kuperhatikan. Tak terlalu menyita perhatian. Aku sudah belajar banyak hal sejak membantu mengurusi pesta dansa tahun lalu”.

“Syukurlah…”

“Kau tak perlu ikut memikirkan hal ini. Nikmati saja pestanya,” Meredith menepuk bahuku sebelum beranjak memeriksa beberapa siswi yang berbaris di belakangku.

Kualihkan pandangan ke lantai dasar. Terlihat kedua puluh pasangan murid tersebut sudah memasuki bagian akhir koreografi dansa pembuka. Tak lama kemudian dansa pun berhenti diikuti berakhirnya musik pengiring. Terdengar tepuk tangan dari seluruh penjuru ruangan. Setelah kedua puluh pasangan itu memberi hormat pada hadirin, mereka pun menyingkir dengan teratur ke sisi ruangan. Memberikan lantai dansa kepada yang lain.

Tak lama kemudian, musik pengiring mulai terdengar kembali. Lantai dansa pun mulai terisi. Diawali oleh para pengajar yang juga hadir, kemudian para siswi yang berada di balkon lantai atas perlahan bergerak menuju lantai dasar. Dengan diiringi oleh siswa yang menjadi pasangan dansa mereka yang menunggu di dasar anak tangga. Satu persatu pasangan dansa mulai mengisi lantai dansa. Beberapa pasangan yang tadi membuka pesta dansa pun kembali ke lantai dansa.

Lantai dansa mulai ramai terisi, barisan di depanku pun mulai memendek. Tak lama kemudian, aku pun telah berdiri di puncak anak tangga. Aku memandang ke bawah, kulihat Nathi berdiri di dekat anak tangga terbawah, tersenyum padaku. Aku menarik napas dan mulai menuruni anak tangga satu persatu. Samar aku mendengar keributan dari arah belakang.

“Awas!” seseorang berteriak.

Kemudian aku merasakan ada yang membenturku dari belakang. Tubuhku melayang ke depan. Sesaat aku merasa waktu melambat. Aku tahu bahwa aku akan terguling jatuh ke depan hingga anak tangga terbawah. Aku pun dapat melihat Nathi membelalakkan matanya melihatku jatuh. Kemudian rasa takut membuatku memejamkan mata erat-erat.

No comments:

Post a Comment