Seluruh
murid yang mengikuti pesta dansa akhir tahun sudah berkumpul di aula utama.
Aula utama yang digunakan untuk pesta dansa akhir tahun ini lebih luas dari
aula yang dipakai untuk latihan dansa. Langit-langitnya tinggi dengan kandil
megah yang dihiasi kristal tergantung tepat di tengah ruangan. Pilar-pilarnya
berwarna putih dengan ornamen emas. Lantainya dari pualam berwarna putih dengan
sedikit corak berwarna merah jambu.
Di
lantai dasar, sekelompok pemain orkestra sedang bersiap di atas sebuah panggung
rendah, terletak di salah satu sisi aula yang berhadapan dengan pintu utama.
Para siswa yang mengikuti pesta dansa menunggu di bagian sisi aula lantai
dasar, sementara para siswi menunggu di balkon lantai dua. Dari atas, aku dapat
melihat Nathi sedang berbincang dengan teman-temannya. Kemudian ia menoleh ke
arah balkon dan memandang berkeliling sampai ia menemukanku yang sedang
memandang ke arahnya. Aku melambaikan tangan ke arahnya dan ia membalas
lambaian tanganku sambil tersenyum.
Wakil
kepala sekolah berjalan ke tengah ruangan, beliau memberikan sambutan dan
membuka acara pesta dansa akhir tahun. Para murid bertepuk tangan setelah
mendengar sambutan dari wakil kepala sekolah. Setelah wakil kepala sekolah
beranjak dari tengah ruangan, perlahan musik mulai mengalun. Kedua puluh pasang
murid yang berjajar di anak tangga perlahan mulai beranjak ke tengah aula dan
membentuk sebuah lingkaran besar. Mereka saling berhadapan dengan pasangan
masing-masing.
Para
siswa membungkuk memberi hormat, sesaat kemudian para siswi membalas dengan
menekukkan lutut. Kemudian mereka menegakkan badan bersama-sama dan bersiap
dalam posisi dansa. Irama musik pun berubah, dari intro dengan tempo lambat
berubah menjadi musik dengan tempo yang riang. Kedua puluh pasang murid yang berada
di tengah lantai dansa berdansa berputar dalam sebuah lingkaran besar,
mengikuti koreografi yang telah mereka latih. Mereka adalah pasangan terbaik
yang dipilih untuk membuka pesta dansa akhir tahun.
“Sebentar
lagi mereka akan selesai. Bersiaplah!”
Aku
menoleh ke arah sumber suara. Terlihat ketua asrama putri, Meredith Howe, yang
turut mengawasi jalannya pesta dansa akhir tahun berjalan berkeliling memberi
arahan pada para siswi. Para siswi akan turun ke lantai dasar dalam dua barisan
menyusuri kedua anak tangga setelah dansa pembuka selesai. Kemudian para siswa
akan menyambut masing-masing pasangan mereka di bawah anak tangga.
“Aku
senang kau bisa ikut pesta dansa akhir tahun di tahun pertama kau pindah ke
sekolah ini,” Meredith berhenti di depanku yang berada di bagian akhir barisan
karna aku mendaftar di hari terakhir pendaftaran pesta dansa.
“Terima
kasih,” ucapku. “Lalu bagaimana denganmu? Apa dengan tugasmu kau bisa menikmati
pesta dansa? Sepertinya tugasmu tidak mudah”.
“Oh,
tenang saja. Setelah kalian mulai berdansa, hanya ada beberapa hal yang harus
kuperhatikan. Tak terlalu menyita perhatian. Aku sudah belajar banyak hal sejak
membantu mengurusi pesta dansa tahun lalu”.
“Syukurlah…”
“Kau
tak perlu ikut memikirkan hal ini. Nikmati saja pestanya,” Meredith menepuk
bahuku sebelum beranjak memeriksa beberapa siswi yang berbaris di belakangku.
Kualihkan
pandangan ke lantai dasar. Terlihat kedua puluh pasangan murid tersebut sudah
memasuki bagian akhir koreografi dansa pembuka. Tak lama kemudian dansa pun
berhenti diikuti berakhirnya musik pengiring. Terdengar tepuk tangan dari
seluruh penjuru ruangan. Setelah kedua puluh pasangan itu memberi hormat pada
hadirin, mereka pun menyingkir dengan teratur ke sisi ruangan. Memberikan
lantai dansa kepada yang lain.
Tak
lama kemudian, musik pengiring mulai terdengar kembali. Lantai dansa pun mulai
terisi. Diawali oleh para pengajar yang juga hadir, kemudian para siswi yang
berada di balkon lantai atas perlahan bergerak menuju lantai dasar. Dengan diiringi
oleh siswa yang menjadi pasangan dansa mereka yang menunggu di dasar anak
tangga. Satu persatu pasangan dansa mulai mengisi lantai dansa. Beberapa pasangan
yang tadi membuka pesta dansa pun kembali ke lantai dansa.
Lantai
dansa mulai ramai terisi, barisan di depanku pun mulai memendek. Tak lama
kemudian, aku pun telah berdiri di puncak anak tangga. Aku memandang ke bawah,
kulihat Nathi berdiri di dekat anak tangga terbawah, tersenyum padaku. Aku menarik
napas dan mulai menuruni anak tangga satu persatu. Samar aku mendengar
keributan dari arah belakang.
“Awas!”
seseorang berteriak.
Kemudian
aku merasakan ada yang membenturku dari belakang. Tubuhku melayang ke depan. Sesaat
aku merasa waktu melambat. Aku tahu bahwa aku akan terguling jatuh ke depan
hingga anak tangga terbawah. Aku pun dapat melihat Nathi membelalakkan matanya
melihatku jatuh. Kemudian rasa takut membuatku memejamkan mata erat-erat.
No comments:
Post a Comment