Matahari
mengintip malu-malu dari balik rimbunnya pepohonan. Langit pagi masih terlihat
mendung karena badai semalam. Arthur yang memandangi suasana pagi itu dari
balik jendela menggeliatkan badannya.
“Arthur!”
satu suara memanggil. Arthur mengalihkan pandangannya dan menoleh ke arah
suara, Linda.
“Apa
kau melihat Shirley? Aku tak bisa menemukannya,” ucap Linda.
“Katakan
padanya, sarapan sebentar lagi siap. Aku heran dengannya kali ini. Aku
kesulitan menemukannya, tiba-tiba aku merasa ia mahir bersembunyi,” ucap Linda
sedikit mengomel.
Arthur
tertawa. “Pasti bisa ditemukan”.
“Tolong
ya…” ucap Linda sebelum beranjak pergi.
Sementara
itu Arthur berjalan ke arah tangga dan menapaki anak tangganya menuju lantai
dua. Sambil berjalan ia berpikir dimana kira-kira Shirley berada. Tanpa
disadari, langkah kakinya membawanya menuju sebuah ruangan. Di ruangan tersebut
terdapat pintu menuju balkon yang menghadap taman belakang. Pintu menuju balkon
tersebut terbuka dan ia dapat melihat sesosok gadis yang dicarinya. Ia pun
berjalan menuju gadis itu.
“Ternyata
kau disini,”
Shirley
yang sedang memandangi taman dari balkon di lantai 2 menoleh. Ia melihat Arthur
berdiri di ambang pintu. Kemudian pemuda itu berjalan ke arah Shirley dan
berdiri di sampingnya.
“Ada
apa?” tanya Shirley.
“Linda
mencarimu. Sarapan siap sebentar lagi.”
“Oh.
Terima kasih.”
Mereka
memandangi taman dalam diam. Angin pagi yang berhembus perlahan terasa sedikit
dingin, udara terasa menyegarkan dan kicauan riang burung terdengar di
kejauhan.
“Linda
bilang kau tiba-tiba mahir bersembunyi,” ucap Arthur memecah kesunyian diantara
mereka.
Shirley
tertawa. Ia langsung terdiam saat Arthur tiba-tiba menyentuh kepalanya.
“Apa
kepalamu masih sakit?” tanya Arthur.
“Masih
benjol dan sedikit sakit jika ditekan. Tapi sudah tak apa,” jawab Shirley.
“Bagaimana denganmu?”
“Yah…
Begitulah. Kurang lebih sama denganmu,” jawab Arthur.
Keduanya
baru saja tersadar beberapa jam yang lalu setelah mereka tak sadarkan diri
karena kepala mereka terbentur.
“Rasanya
seperti terbangun dari mimpi panjang,” gumam Shirley.
“Hm?”
“Ah,
tidak apa-apa. Ayo kita kembali. Yang lain pasti sudah menunggu,” ucap Shirley
sambil beranjak dari balkon.
“Ya.
Perutku juga sudah lapar,”
Mereka
pun berjalan bersama menuju ruang makan.
“Omong-omong
soal perkataan Linda tadi, aku merasa heran karena aku tak pernah berniat
bersembunyi,” ucap Shirley bingung.
“Meski
demikian, tak ada yang menemukanmu,”
“Tapi
kau bisa menemukanku,”
“Aku
akan selalu bisa merasakan dimana kau berada,”
Shirley
menghentikan langkahnya. Arthur ikut berhenti dan memandang heran. Shirley balas
memandang Arthur dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ia merasa ada seseorang
yang pernah mengatakan hal yang serupa padanya, dulu sekali. Namun ia tidak
ingat siapa, kapan dan apa tepatnya perkataan tersebut.
“Ada
apa?” pertanyaan Arthur membuyarkan lamunannya.
Shirley
tersenyum. “Tak ada. Ayolah”.
Mereka
pun kembali berjalan.
-Fin-
#Afterword:
Well… I hope you enjoy the story. I have been working on the other stories too, as you see that I have post some part of it. I really want to finish them all, the stories that I have started to write. So, see you again on other stories… :)
No comments:
Post a Comment