Saturday, 26 April 2014

Life Circle #part 4

Scott
Wanita yang sedang duduk di lantai bersamaku ini adalah ibu tiriku, Anne namanya. Ayah menganggapnya mirip dengan ibuku yang sudah meninggal, karena itulah ia menikahinya. Kenyatannya, ia tidak mirip dengan ibuku, dan itulah yang membuat ayahku semakin marah padanya setiap kali mencari kemiripannya dengan ibuku. Hanya warna rambut dan warna matanya yang mirip dengan ibuku. Tapi itu tidak masuk akal. Rambut dan mataku sangat mirip dengan ibu, tapi karena hal itulah ayah tidak mau memandangku karena membuatnya teringat ibuku. Aku sungguh tidak tahu apa yang dipikirkannya.

Anne menganggap aku dan James sebagai adiknya. Karena umur kami tak jauh berbeda. Ia baru berusia 20 tahun dan ia menikah dengan ayahku yang usianya terpaut 25 tahun dengannya. Sejak awal aku dan James tak pernah memanggilnya ibu, kami memanggil namanya. Ayah sempat marah pada kami, tapi Anne membela kami. Dia bilang karena umur kami tak berbeda jauh, pastinya kami menganggapnya lebih sebagai kakak daripada ibu.

Monday, 21 April 2014

Bandung: Taman Pustaka Bunga

Saya akan melanjutkan cerita mengenai perjalanan saya dan kuswointanUsai menyusuri jalan Braga dan Asia-Afrika, lihat posting Bandung: Braga dan Asia-Afrika, kami melanjutkan hari itu dengan makan siang di bilangan jalan Citarum. Kemudian dilanjutkan dengan shalat dhuhur di Pusdai yang terletak tak jauh dari tempat makan siang. Beristirahat sejenak di Pusdai, kami memutuskan untuk mampir ke Taman Pustaka Bunga sebelum mengakhiri perjalanan hari itu dan pulang ke rumah. Hmm… lebih tepatnya sebelum saya mengakhiri perjalanan hari itu dan pulang karena kuswointan masih memiliki janji temu yang lain.

Taman Pustaka Bunga terletak di jalan Citarum. Sesuai dengan namanya, di dalam taman tersebut terdapat berbagai macam vegetasi. Di depan masing-masing tanaman terdapat plat kayu yang di dalamnya tertera nama umum dan nama ilmiah tanaman-tanaman tersebut. Berikut adalah beberapa foto yang saya ambil di taman pustaka bunga.

Saturday, 19 April 2014

Bandung: Braga dan Asia-Afrika

Beberapa waktu yang lalu kami, saya dan kuswointan, merencanakan untuk berjalan menyusuri jalan Braga, mencari bangunan yang masih berdiri sejak jaman penjajahan Belanda. Alasannya sederhana, karena tertarik setelah membaca buku Braga: Jantung Parijs van Java karya Ridwan Hutagalung & Taufanny Nugraha. Sekedar mencari jejak sejarah yang tertinggal.

Jika membaca buku tersebut, alur bangunan dibahas dari simpang Asia-Afrika hingga ujung jalan Braga bagian di utara. Karena posisi tempat tinggal, kami memulai penyusuran dari ujung utara jalan Braga yang lebih mudah kami jangkau. Pagi itu, Ahad 13 April 2014, kami bertemu di halte bis yang terletak di depan gedung BI. Dari sana kami menyusuri jalan Braga hingga jalan Asia-Afrika. Berikut ini adalah foto-foto yang kami ambil selama menyusuri jalan Braga dan Asia-Afrika.

Thursday, 17 April 2014

Life Circle #part 3

“Sudah sepuluh menit tapi mereka belum juga kembali,” Linda dengan cemas berulang kali memeriksa jam tangannya.

“Aku akan mencari mereka. Sebaiknya sebagian dari kita tetap disini, barang kali mereka kembali,” ucap Frank.

“Aku ikut denganmu!” seru Linda yang sedari tadi tak sabar.

Frank mengangguk. Saat itulah sebuah sumber cahaya lain menyinari ruang duduk dari arah pintu. Semua kepala menoleh ke arah pintu masuk. Mereka melihat satu sosok berjalan masuk sambil membawa lentera.

Thursday, 10 April 2014

Life Circle #part 2

Anne
Cahaya matahari yang masuk dari jendela terlihat kontras dengan ruangan yang gelap dan muram ini. Seperti biasa kududuk di kursi besar yang berlapis kain lembut berwarna gelap. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Sebuah perapian yang berada di sisi kiriku menghiasi salah satu sisi dinding, rak buku besar memenuhi dinding di hadapanku, sebuah meja kecil diletakkan di samping kanan kursiku. Lalu, di belakang kursi besar yang kududuki ini ada sebuah piano besar.

Ruangan ini masih terasa gelap meski memiliki jendela-jendela yang besar dan cahaya yang masuk melimpah pun ruah. Dari luar jendela terdengar suara gelak tawa anak-anak yang sedang bermain. Ingin sekali aku beranjak dari kursi dan melihat keluar, tapi aku tak mampu menggerakkan seujung jari pun. Seolah badanku terikat ke kursi ini dengan belenggu tak kasat mata membuatku sesak dan sulit bernapas.

Thursday, 3 April 2014

Life Circle #part 1

Suara petir menggelegar bersahutan. Cahaya kilat sesekali menerangi gelapnya malam. Hujan turun dengan deras diiringi oleh angin kencang yang menampar pepohonan, seakan berusaha menundukkan batang-batang teguh nan kokoh itu.

“Kuharap badai segera berhenti,” ucap Shirley. Gadis itu berdiri menyandar pada punggung kursi sambil memperhatikan keadaan di luar sana melalui jendela yang berderak terkena tiupan angin kencang.



“Semoga saja,” balas Linda yang sedang menghangatkan diri di depan perapian. Gadis itu lalu beranjak mendekati temannya yang sedari tadi terlihat resah memperhatikan badai yang terjadi di luar.