Scott
Wanita
yang sedang duduk di lantai bersamaku ini adalah ibu tiriku, Anne namanya. Ayah
menganggapnya mirip dengan ibuku yang sudah meninggal, karena itulah ia
menikahinya. Kenyatannya, ia tidak mirip dengan ibuku, dan itulah yang membuat
ayahku semakin marah padanya setiap kali mencari kemiripannya dengan ibuku. Hanya
warna rambut dan warna matanya yang mirip dengan ibuku. Tapi itu tidak masuk
akal. Rambut dan mataku sangat mirip dengan ibu, tapi karena hal itulah ayah
tidak mau memandangku karena membuatnya teringat ibuku. Aku sungguh tidak tahu
apa yang dipikirkannya.
Anne
menganggap aku dan James sebagai adiknya. Karena umur kami tak jauh berbeda. Ia
baru berusia 20 tahun dan ia menikah dengan ayahku yang usianya terpaut 25
tahun dengannya. Sejak awal aku dan James tak pernah memanggilnya ibu, kami
memanggil namanya. Ayah sempat marah pada kami, tapi Anne membela kami. Dia
bilang karena umur kami tak berbeda jauh, pastinya kami menganggapnya lebih
sebagai kakak daripada ibu.
Yang
kutahu James memang menganggapnya kakak. Tapi aku tidak. Sejak awal aku
merasakan perasaan yang lain mengenai wanita itu. Tapi kurasa ia akan
menertawakanku karena umurku masih 12 tahun.
Aku
memandang kursi besar di ruangan ini. Kursi kesukaan ibuku. Ia sering duduk di
kursi itu sambil minum teh dan menikmati hangatnya api perapian, lalu ayahku
akan bermain piano untuk menemaninya bersantai. Sudah 8 tahun kursi itu tidak
diduduki semenjak ibuku meninggal, ayah melarang siapa pun menduduki kursi itu,
ia sendiri juga tak pernah menduduki kursi itu. Ketika Anne masuk ke rumah ini
sebagai ibu tiriku, ayah sering menyuruhnya untuk duduk di kursi itu. Kemudian
ia akan memandangi Anne yang duduk di kursi itu dengan mata menerawang jauh. Ia
benar-benar mencari sosok ibuku dalam diri Anne.
Tapi
akhir-akhir ini sepertinya Ayah kesulitan melihat sosok Ibu, menurutnya makin
lama Anne makin tidak mirip dengan ibuku. Ia lalu mulai menyuruh Anne untuk
mengenakan baju-baju ibuku yang disimpan dengan rapi. Tak hanya itu, ia
menyuruh Anne mengikuti kebiasaan-kebiasaan ibuku, cara jalan, cara berbicara,
cara tertawa. Ayah benar-benar sudah gila.
Aku
melihat Anne semakin terluka setiap hari karena sering di damprat ayahku.
Bahkan duduk di kursi ibuku pun menjadi hal yang berat baginya, aku melihat ia
seakan terbelenggu dan kesulitan bernapas. Padahal setiap pagi ayah selalu
menyuruhnya untuk duduk di sana sebelum ia pergi.
Setelah
ayah berangkat aku selalu menjemputnya, menariknya bangun dari kursi itu,
melepasnya dari belenggu. Aku ingin ia bisa bernapas saat ia bersamaku atau
James. Sungguh menyenangkan melihat matanya berbinar bak gemintang.
Hari
ini hingga waktu makan malam ayah belum juga pulang. Menurut kepala rumah
tangga, ayah baru pulang besok karena urusan bisnis. Aku lega karena itu
berarti Anne akan terbebas dari aturan-aturan ayah lebih lama. Malam itu pun
pertama kalinya aku melihat Anne tertidur di balkon dengan sebuah buku terbuka
di pangkuannya. Ia mengenakan gaun tidur berwarna putih dan rambut ikalnya pun
digerai, tidak disanggul seperti di siang hari.
Malam
itu aku tak menyangka akan melakukan sesuatu yang dapat membuatku dan Anne
dalam masalah. Aku meraih rambut panjang Anne dan menciumnya. Harum semerbak
rambutnya memenuhi rongga pernapasanku.
Anne
bergerak. Sepertinya ia terbangun. Aku segera melepaskan rambutnya yang
kupegang. Ketika ia membuka mata dan menyadari aku ada di dekatnya, aku
mengatakan padanya agar tidur di kamar, karena angin malam akan membuatnya
sakit jika ia tidur di balkon. Setelah mengatakan itu aku langsung pergi dari
balkon, menuju kamarku sendiri.
No comments:
Post a Comment