Saturday, 26 April 2014

Life Circle #part 4

Scott
Wanita yang sedang duduk di lantai bersamaku ini adalah ibu tiriku, Anne namanya. Ayah menganggapnya mirip dengan ibuku yang sudah meninggal, karena itulah ia menikahinya. Kenyatannya, ia tidak mirip dengan ibuku, dan itulah yang membuat ayahku semakin marah padanya setiap kali mencari kemiripannya dengan ibuku. Hanya warna rambut dan warna matanya yang mirip dengan ibuku. Tapi itu tidak masuk akal. Rambut dan mataku sangat mirip dengan ibu, tapi karena hal itulah ayah tidak mau memandangku karena membuatnya teringat ibuku. Aku sungguh tidak tahu apa yang dipikirkannya.

Anne menganggap aku dan James sebagai adiknya. Karena umur kami tak jauh berbeda. Ia baru berusia 20 tahun dan ia menikah dengan ayahku yang usianya terpaut 25 tahun dengannya. Sejak awal aku dan James tak pernah memanggilnya ibu, kami memanggil namanya. Ayah sempat marah pada kami, tapi Anne membela kami. Dia bilang karena umur kami tak berbeda jauh, pastinya kami menganggapnya lebih sebagai kakak daripada ibu.

Yang kutahu James memang menganggapnya kakak. Tapi aku tidak. Sejak awal aku merasakan perasaan yang lain mengenai wanita itu. Tapi kurasa ia akan menertawakanku karena umurku masih 12 tahun.

Aku memandang kursi besar di ruangan ini. Kursi kesukaan ibuku. Ia sering duduk di kursi itu sambil minum teh dan menikmati hangatnya api perapian, lalu ayahku akan bermain piano untuk menemaninya bersantai. Sudah 8 tahun kursi itu tidak diduduki semenjak ibuku meninggal, ayah melarang siapa pun menduduki kursi itu, ia sendiri juga tak pernah menduduki kursi itu. Ketika Anne masuk ke rumah ini sebagai ibu tiriku, ayah sering menyuruhnya untuk duduk di kursi itu. Kemudian ia akan memandangi Anne yang duduk di kursi itu dengan mata menerawang jauh. Ia benar-benar mencari sosok ibuku dalam diri Anne.

Tapi akhir-akhir ini sepertinya Ayah kesulitan melihat sosok Ibu, menurutnya makin lama Anne makin tidak mirip dengan ibuku. Ia lalu mulai menyuruh Anne untuk mengenakan baju-baju ibuku yang disimpan dengan rapi. Tak hanya itu, ia menyuruh Anne mengikuti kebiasaan-kebiasaan ibuku, cara jalan, cara berbicara, cara tertawa. Ayah benar-benar sudah gila.

Aku melihat Anne semakin terluka setiap hari karena sering di damprat ayahku. Bahkan duduk di kursi ibuku pun menjadi hal yang berat baginya, aku melihat ia seakan terbelenggu dan kesulitan bernapas. Padahal setiap pagi ayah selalu menyuruhnya untuk duduk di sana sebelum ia pergi.

Setelah ayah berangkat aku selalu menjemputnya, menariknya bangun dari kursi itu, melepasnya dari belenggu. Aku ingin ia bisa bernapas saat ia bersamaku atau James. Sungguh menyenangkan melihat matanya berbinar bak gemintang.

Hari ini hingga waktu makan malam ayah belum juga pulang. Menurut kepala rumah tangga, ayah baru pulang besok karena urusan bisnis. Aku lega karena itu berarti Anne akan terbebas dari aturan-aturan ayah lebih lama. Malam itu pun pertama kalinya aku melihat Anne tertidur di balkon dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya. Ia mengenakan gaun tidur berwarna putih dan rambut ikalnya pun digerai, tidak disanggul seperti di siang hari.

Malam itu aku tak menyangka akan melakukan sesuatu yang dapat membuatku dan Anne dalam masalah. Aku meraih rambut panjang Anne dan menciumnya. Harum semerbak rambutnya memenuhi rongga pernapasanku.

Anne bergerak. Sepertinya ia terbangun. Aku segera melepaskan rambutnya yang kupegang. Ketika ia membuka mata dan menyadari aku ada di dekatnya, aku mengatakan padanya agar tidur di kamar, karena angin malam akan membuatnya sakit jika ia tidur di balkon. Setelah mengatakan itu aku langsung pergi dari balkon, menuju kamarku sendiri.

No comments:

Post a Comment