“Sudah
sepuluh menit tapi mereka belum juga kembali,” Linda dengan cemas berulang kali
memeriksa jam tangannya.
“Aku
akan mencari mereka. Sebaiknya sebagian dari kita tetap disini, barang kali mereka kembali,” ucap Frank.
“Aku
ikut denganmu!” seru Linda yang sedari tadi tak sabar.
Frank
mengangguk. Saat itulah sebuah sumber cahaya lain menyinari ruang duduk dari
arah pintu. Semua kepala menoleh ke arah pintu masuk. Mereka melihat satu sosok
berjalan masuk sambil membawa lentera.
Rupanya
yang datang adalah Pak Morrison, seorang pria tua yang menjaga rumah tersebut.
Pak Morrison tinggal di sebuah pondok kecil yang terletak di samping rumah
besar itu.
“Maaf
saya terlambat memeriksa keadaan kalian disini. Sepertinya saya lupa
memberitahu kalian letak generator listrik yang ada,” ucap Pak Morrison.
“Bukankah
bapak memberitahu salah satu teman kami bahwa generator listrik berada di
lantai bawah tanah?” tanya Eliza.
“Begitukah?”
ucap Pak Morrison tak yakin.
“Pak
Morrison, apa bapak bisa mengantar kami ke lantai bawah tanah? Kami hendak
menyusul teman kami,” ucap Frank.
Pak
Morrison mengangguk-angguk. Lalu bersama Frank dan Linda, mereka menuju lantai
bawah tanah sementara Eliza dan Cecil menunggu di ruang duduk. Frank membawakan
lentera milik Pak Morrison sementara Pak Morrison menunjukkan arah menyusuri
koridor, melewati beberapa pintu, kemudian berhenti di depan sebuah pintu.
Melalui pintu yang terbuka itu, mereka dapat melihat sebuah tangga menuju
lantai bawah tanah yang gelap.
No comments:
Post a Comment