Thursday, 3 April 2014

Life Circle #part 1

Suara petir menggelegar bersahutan. Cahaya kilat sesekali menerangi gelapnya malam. Hujan turun dengan deras diiringi oleh angin kencang yang menampar pepohonan, seakan berusaha menundukkan batang-batang teguh nan kokoh itu.

“Kuharap badai segera berhenti,” ucap Shirley. Gadis itu berdiri menyandar pada punggung kursi sambil memperhatikan keadaan di luar sana melalui jendela yang berderak terkena tiupan angin kencang.



“Semoga saja,” balas Linda yang sedang menghangatkan diri di depan perapian. Gadis itu lalu beranjak mendekati temannya yang sedari tadi terlihat resah memperhatikan badai yang terjadi di luar.

Shirley menggeleng pelan. Lalu ia menjawab, “sejak kita tiba di rumah ini, entah kenapa, kepalaku terasa sakit.”


“Flu? Apa kau demam?”

“Kurasa tidak.”

“Apa kau baik-baik saja, Shirley?” setelah memperhatikan wajah Shirley selama beberapa saat, Linda lalu menambahkan, “kau terlihat pucat.”

“Mungkin sebaiknya kau beristirahat di kamar.”

“Baiklah.”

Shirley beranjak dari ruang duduk ditemani Linda. Mereka naik ke lantai dua melalui tangga utama. Kemudian berbelok ke kanan dan menyusuri koridor menuju kamar yang dipinjamkan kepada mereka yang terletak di sayap utara. Karena sang penjaga rumah mengatakan mereka dapat menempati kamar manapun yang ada di sayap utara, mereka pun memilih kamar yang paling besar agar dapat ditempati bersama-sama.

Saat Shirley dan Linda masuk, mereka melihat Eliza sedang mencari sesuatu di tas ransel miliknya. Eliza mendongak ke arah mereka.

“Apa diantara kalian ada yang membawa lentera turun dari mobil?” tanya Eliza.

Shirley dan Linda saling berpandangan.

“Kurasa tidak ada yang membawa lentera turun,” ucap Shirley.

“Mengapa kau mencari lentera?” tanya Linda.

Eliza tersenyum. “Mungkin hanya kekhawatiran saja. Dengan badai seperti ini aku khawatir aliran listrik akan terputus.”

Eliza mengeluarkan jas hujan dari ranselnya kemudian beranjak ke pintu. “Aku akan ambil lentera dulu di mobil. Shirley, kau beristirahatlah. Wajahmu terlihat pucat,” kemudian ia berlalu.

“Karena kalian berdua menyuruhku untuk beristirahat, sepertinya aku memang harus beristirahat,”

Shirley tersenyum ke arah Linda lalu ia beranjak ke tempat tidur. Ia melepaskan sepatu kets-nya dan merebahkan diri di atas kasur. Sementara itu Linda duduk di kursi panjang sambil membaca buku.

Larut malam Shirley terbangun karena perasaan tak enak. Saat ia membuka mata, kamar yang ditempatinya gelap. Hujan masih turun dengan lebat di luar, sesekali cahaya kilat menerangi kamar. Shirley mendapati dirinya sendirian di kamar tersebut. Ia turun dari tempat tidur, memakai sepatu dan beranjak keluar kamar. Shirley menyusuri koridor menuju tangga utama. Saat ia berdiri di puncak tangga, ia menyadari ada cahaya yang berasal dari pintu ruang duduk dan beberapa suara.

Diantara suara-suara yang tengah berbincang ia mengenali suara Eliza dan Linda. Sambil menuruni tangga, Shirley bertanya-tanya siapa saja yang berada di ruang duduk selai kedua temannya. Lalu ia teringat, saat  beristirahat ia sempat terbangun ketika Eliza kembali dari mengambil lentera di mobil. Ia mendengar Eliza memberi tahu Linda bahwa ada beberapa orang lain yang juga ikut berlindung dari badai. Namun Shirley tak bertanya apapun karena ia langsung kembali tertidur.

Saat Shirley sampai di ambang pintu ruang duduk, ia melihat ada lima orang duduk mengelilingi lentera. Dua orang diantaranya adalah Eliza dan Linda. Selain kedua temannya itu ada seorang gadis dan dua pemuda disana.

“Aliran listrik terputus?” tanya Shirley sambil berjalan mendekat.

Kelima orang yang ada disana menoleh kearahnya.

“Shirley! Kau terbangun? Bagaimana keadaanmu?” tanya Linda yang segera bangkit dari kursi dan menyambut Shirley.

“Yah… sudah lebih baik,”

“Oh iya. Mereka juga berlindung dari badai seperti kita. Frank, Arthur dan Cecil,”

Linda memperkenalkan ketiga orang lain yang ada disana. Frank menganggukkan kepala saat Linda menyebutkan namanya, Arthur tersenyum dan Cecil melambaikan tangan dengan ceria seraya berujar “Hai!”

“Hai!” ucap Shirley sambil membalas lambaian tangan Cecil. “Lalu… apa yang terjadi?”

“Tiang listrik diujung jalan terkena sambaran petir,” jawab Eliza.

Shirley berjalan menuju jendela dan memerhatikan keadaan di luar. Tak lama kemudian ia berujar, “Bukankah di lantai bawah tanah ada generator listrik?”

“Generator listrik? Apa pak Morrison memberitahumu?” tanya Eliza.

“Mmm…” Shirley bergumam tak jelas. Ia sendiri tak mengerti mengapa ia mengetahui hal tersebut. Seingatnya Pak Morrison  tak sempat memberitahu mereka.

“Kurasa beberapa dari kita harus pergi ke lantai bawah tanah untuk menyalakan generator,” ucap Frank.

“Yah… mungkin sebaiknya begitu,” ucap Eliza.

“Jadi siapa saja yang akan ke lantai bawah tanah?” tanya Linda.

“Kurasa sebaiknya aku atau Arthur,” jawab Frank.

“Aku ikut,” ucap Cecil.

“Shirley, apa Pak Morrison memberitahukan jalan ke lantai bawah tanah? Kau mau ikut?” Eliza menoleh ke arah jendela dimana sebelumnya Shirley berdiri memandang keluar. Namun Shirley sudah tak ada disana. Ia tak terlihat dimanapun di ruang duduk tersebut.

“Apa mungkin ia pergi sendirian ke lantai bawah tanah?” tanya Cecil.

Eliza langsung berdiri dan pergi ke ambang pintu ruang duduk. Ia memandang ke luar ruangan. Sejauh yang bisa ia lihat, tak ada seorang pun disana. Kemudian ia merasakan seseorang berjalan melewatinya, Arthur.

“Hei, kau mau kemana?” seru Eliza.

“Aku akan mencari temanmu,” jawab Arthur sambil tetap melangkah cepat.

“Tunggu dulu! Jangan pergi sendirian!” seru Eliza.

Namun sosok Arthur dengan segera lenyap didalam kegelapan sebelum ada seorang pun yang sempat menyusulnya. Eliza menatap keempat orang lainnya yang ada di ruangan. Frank menggaruk kepalanya kesal, ia segera berdiri. Tapi ia hanya bergeming ditempatnya sebelum akhirnya duduk kembali.

“Kurasa kita tunggu saja mereka disini. Jika selama 15 menit mereka belum juga kembali, kita cari mereka,” ucap Frank.

Tak ada yang bersuara. Dalam diam mereka menyetujui ucapan Frank.

#Side note: Sebenarnya saya pernah menulis cerita ini di blog lama saya (blog itu sudah saya hapus). Jika dibandingkan dengan versi lama, saya merombak separuh dari cerita ini. Hope you will enjoy this story :)

No comments:

Post a Comment