Suara
petir menggelegar bersahutan. Cahaya kilat sesekali menerangi gelapnya malam.
Hujan turun dengan deras diiringi oleh angin kencang yang menampar pepohonan,
seakan berusaha menundukkan batang-batang teguh nan kokoh itu.
“Kuharap badai segera berhenti,” ucap Shirley. Gadis itu berdiri menyandar pada punggung kursi sambil memperhatikan keadaan di luar sana melalui jendela yang berderak terkena tiupan angin kencang.
“Semoga saja,” balas Linda yang sedang menghangatkan diri di depan perapian. Gadis itu lalu beranjak mendekati temannya yang sedari tadi terlihat resah memperhatikan badai yang terjadi di luar.
Shirley menggeleng pelan. Lalu ia menjawab, “sejak kita tiba di rumah ini, entah kenapa, kepalaku terasa sakit.”
“Flu? Apa kau demam?”
“Kurasa tidak.”
“Apa kau baik-baik saja, Shirley?” setelah memperhatikan wajah Shirley selama
beberapa saat, Linda lalu menambahkan, “kau terlihat pucat.”
“Mungkin sebaiknya kau beristirahat di kamar.”
“Baiklah.”
Shirley
beranjak dari ruang duduk ditemani Linda. Mereka naik ke lantai dua melalui
tangga utama. Kemudian berbelok ke kanan dan menyusuri koridor menuju kamar
yang dipinjamkan kepada mereka yang terletak di sayap utara. Karena sang
penjaga rumah mengatakan mereka dapat menempati kamar manapun yang ada di sayap
utara, mereka pun memilih kamar yang paling besar agar dapat ditempati
bersama-sama.
Saat
Shirley dan Linda masuk, mereka melihat Eliza sedang mencari sesuatu di tas
ransel miliknya. Eliza mendongak ke arah mereka.
“Apa
diantara kalian ada yang membawa lentera turun dari mobil?” tanya Eliza.
Shirley
dan Linda saling berpandangan.
“Kurasa
tidak ada yang membawa lentera turun,” ucap Shirley.
“Mengapa
kau mencari lentera?” tanya Linda.
Eliza
tersenyum. “Mungkin hanya kekhawatiran saja. Dengan badai seperti ini aku
khawatir aliran listrik akan terputus.”
Eliza
mengeluarkan jas hujan dari ranselnya kemudian beranjak ke pintu. “Aku akan
ambil lentera dulu di mobil. Shirley, kau beristirahatlah. Wajahmu terlihat
pucat,” kemudian ia berlalu.
“Karena
kalian berdua menyuruhku untuk beristirahat, sepertinya aku memang harus
beristirahat,”
Shirley
tersenyum ke arah Linda lalu ia beranjak ke tempat tidur. Ia melepaskan sepatu
kets-nya dan merebahkan diri di atas kasur. Sementara itu Linda duduk di kursi
panjang sambil membaca buku.
Larut malam Shirley terbangun karena perasaan tak enak. Saat ia membuka mata, kamar yang ditempatinya gelap. Hujan masih turun dengan lebat di luar, sesekali cahaya kilat menerangi kamar. Shirley mendapati dirinya sendirian di kamar tersebut. Ia turun dari tempat tidur, memakai sepatu dan beranjak keluar kamar. Shirley menyusuri koridor menuju tangga utama. Saat ia berdiri di puncak tangga, ia menyadari ada cahaya yang berasal dari pintu ruang duduk dan beberapa suara.
Diantara
suara-suara yang tengah berbincang ia mengenali suara Eliza dan Linda. Sambil
menuruni tangga, Shirley bertanya-tanya siapa saja yang berada di ruang duduk
selai kedua temannya. Lalu ia teringat, saat beristirahat ia sempat
terbangun ketika Eliza kembali dari mengambil lentera di mobil. Ia mendengar
Eliza memberi tahu Linda bahwa ada beberapa orang lain yang juga ikut
berlindung dari badai. Namun Shirley tak bertanya apapun karena ia langsung
kembali tertidur.
Saat
Shirley sampai di ambang pintu ruang duduk, ia melihat ada lima orang duduk
mengelilingi lentera. Dua orang diantaranya adalah Eliza dan Linda. Selain
kedua temannya itu ada seorang gadis dan dua pemuda disana.
“Aliran
listrik terputus?” tanya Shirley sambil berjalan mendekat.
Kelima
orang yang ada disana menoleh kearahnya.
“Shirley!
Kau terbangun? Bagaimana keadaanmu?” tanya Linda yang segera bangkit dari kursi
dan menyambut Shirley.
“Yah…
sudah lebih baik,”
“Oh
iya. Mereka juga berlindung dari badai seperti kita. Frank, Arthur dan Cecil,”
Linda
memperkenalkan ketiga orang lain yang ada disana. Frank menganggukkan kepala
saat Linda menyebutkan namanya, Arthur tersenyum dan Cecil melambaikan tangan
dengan ceria seraya berujar “Hai!”
“Hai!”
ucap Shirley sambil membalas lambaian tangan Cecil. “Lalu… apa yang terjadi?”
“Tiang
listrik diujung jalan terkena sambaran petir,” jawab Eliza.
Shirley
berjalan menuju jendela dan memerhatikan keadaan di luar. Tak lama kemudian ia
berujar, “Bukankah di lantai bawah tanah ada generator listrik?”
“Generator
listrik? Apa pak Morrison memberitahumu?” tanya Eliza.
“Mmm…”
Shirley bergumam tak jelas. Ia sendiri tak mengerti mengapa ia mengetahui hal
tersebut. Seingatnya Pak Morrison tak sempat memberitahu mereka.
“Kurasa
beberapa dari kita harus pergi ke lantai bawah tanah untuk menyalakan
generator,” ucap Frank.
“Yah…
mungkin sebaiknya begitu,” ucap Eliza.
“Jadi
siapa saja yang akan ke lantai bawah tanah?” tanya Linda.
“Kurasa
sebaiknya aku atau Arthur,” jawab Frank.
“Aku
ikut,” ucap Cecil.
“Shirley,
apa Pak Morrison memberitahukan jalan ke lantai bawah tanah? Kau mau ikut?”
Eliza menoleh ke arah jendela dimana sebelumnya Shirley berdiri memandang
keluar. Namun Shirley sudah tak ada disana. Ia tak terlihat dimanapun di ruang
duduk tersebut.
“Apa
mungkin ia pergi sendirian ke lantai bawah tanah?” tanya Cecil.
Eliza
langsung berdiri dan pergi ke ambang pintu ruang duduk. Ia memandang ke luar
ruangan. Sejauh yang bisa ia lihat, tak ada seorang pun disana. Kemudian ia
merasakan seseorang berjalan melewatinya, Arthur.
“Hei,
kau mau kemana?” seru Eliza.
“Aku
akan mencari temanmu,” jawab Arthur sambil tetap melangkah cepat.
“Tunggu
dulu! Jangan pergi sendirian!” seru Eliza.
Namun
sosok Arthur dengan segera lenyap didalam kegelapan sebelum ada seorang pun
yang sempat menyusulnya. Eliza menatap keempat orang lainnya yang ada di
ruangan. Frank menggaruk kepalanya kesal, ia segera berdiri. Tapi ia hanya
bergeming ditempatnya sebelum akhirnya duduk kembali.
“Kurasa
kita tunggu saja mereka disini. Jika selama 15 menit mereka belum juga kembali,
kita cari mereka,” ucap Frank.
Tak ada
yang bersuara. Dalam diam mereka menyetujui ucapan Frank.
#Side note: Sebenarnya saya pernah menulis cerita ini di blog lama saya (blog itu sudah saya hapus). Jika dibandingkan dengan versi lama, saya merombak separuh dari cerita ini. Hope you will enjoy this story :)
No comments:
Post a Comment