Anne
Cahaya
matahari yang masuk dari jendela terlihat kontras dengan ruangan yang gelap dan
muram ini. Seperti biasa kududuk di kursi besar yang berlapis kain lembut
berwarna gelap. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Sebuah perapian yang
berada di sisi kiriku menghiasi salah satu sisi dinding, rak buku besar memenuhi
dinding di hadapanku, sebuah meja kecil diletakkan di samping kanan kursiku.
Lalu, di belakang kursi besar yang kududuki ini ada sebuah piano besar.
Ruangan
ini masih terasa gelap meski memiliki jendela-jendela yang besar dan cahaya
yang masuk melimpah pun ruah. Dari luar jendela terdengar suara gelak tawa
anak-anak yang sedang bermain. Ingin sekali aku beranjak dari kursi dan melihat
keluar, tapi aku tak mampu menggerakkan seujung jari pun. Seolah badanku
terikat ke kursi ini dengan belenggu tak kasat mata membuatku sesak dan sulit
bernapas.
Suara
langkah kaki terdengar. Aku mengenali langkah itu. Langkah yang selalu membawa
cahaya dan kegembiraan. Ia berlari kesini. Pintu yang berada di dinding sebelah
kananku terbuka. Seraut wajah menyembul masuk. Senyum riang tersungging di
wajahnya, matanya yang coklat berbinar cerah. Ia masuk kedalam ruangan dan
menghampiri kursi tempatku duduk. Ia mengamit tanganku. Seketika itu ruangan
menjadi terang, disinari cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar
yang ada. Belenggu tak kasat mata yang mengikatku pada kursi pun terlepas
begitu saja, aku pun bisa bernapas dengan lega.
Anak
itu menarik tanganku, aku berlari kecil mengikuti langkahnya. Keluar dari
ruangan, menyusuri koridor rumah, menuju pintu yang mengarah ke pekarangan
samping. Saat berlari menyusuri koridor, mataku sempat menangkap sebuah pigura
besar. Pigura itu menghiasi foto keluarga, aku, suamiku, dan kedua anak
suamiku.
Ya.
Anak ini adalah anak kedua suamiku dari istrinya yang terdahulu. Sebelumnya aku
hanyalah seorang anak kepala sekolah dari kota kecil yang sedang menjadi guru
magang. Kala itu suamiku berkunjung ke kota kecil tempatku tinggal dan kami
berpapasan di jalan. Aku tidak menyangka jika setelah itu ia mencari tahu
mengenai diriku dan segera datang melamar pada orangtuaku. Saat itu aku tidak
sedang berhubungan dengan siapapun, jadi kuterima pinangan itu, kupikir aku
bisa mencintai suamiku suatu saat nanti.
Tapi
rupanya harapanku tidak akan terjadi. Semakin lama aku tinggal di rumah ini,
aku semakin tertekan. Yang dapat menjadi pelipur hatiku hanyalah kedua anak
dari suamiku. Mereka anak-anak yang manis dan baik hati, meski demikian mereka
sulit merasakan kebebasan. Ayah mereka melarang mereka keluar dari lingkungan
rumah ini, bahkan untuk bersekolah sekalipun. Guru privat pun dipanggil untuk
mengajar mereka.
Aku
yang ingin menjadi guru tergelitik untuk mengajar mereka. Kuminta pada suamiku
untuk membagi jam belajar mereka antara guru privat dan diriku, dan ia
mengizinkan. Kami sering belajar di ruangan tempatku duduk tadi. James yang
berumur 15 tahun akan memainkan piano setelah kami selesai belajar sementara
adiknya Scott yang berumur 12 tahun dan aku akan mendengarkan permainannya
sambil membaca buku. Begitu pula sore ini setelah kami bermain di pekarangan,
kami belajar di ruangan itu.
Aku
menyukai ruangan itu, meski aku tidak suka dengan kursi besar yang ada di
ruangan. Menurut James dan Scott kursi itu adalah kursi kesayangan ibu mereka.
Aku adalah orang pertama yang diizinkan ayah mereka untuk menduduki kursi itu.
Mungkin lebih tepatnya aku dipaksa untuk duduk di kursi itu. Sepertinya ia
masih mencari-cari istrinya yang sudah meninggalkan dunia ini. Tapi semakin
lama ia memandangku, semakin terlihat perbedaan kami. Dan hal itu sering
membuatnya marah.
Aku memandang James
yang sedang bermain piano, kemudian kualihkan pandanganku pada Scott yang
berbaring telungkup sambil membaca buku di sampingku, lalu kualihkan
pandanganku pada buku yang sedang kubaca. Aku sangat menikmati saat-saat ini,
bersama dua pria kecilku, yang lebih sering kuanggap sebagai adik karena usia
kami yang tidak jauh.
No comments:
Post a Comment