Thursday, 10 April 2014

Life Circle #part 2

Anne
Cahaya matahari yang masuk dari jendela terlihat kontras dengan ruangan yang gelap dan muram ini. Seperti biasa kududuk di kursi besar yang berlapis kain lembut berwarna gelap. Kuedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Sebuah perapian yang berada di sisi kiriku menghiasi salah satu sisi dinding, rak buku besar memenuhi dinding di hadapanku, sebuah meja kecil diletakkan di samping kanan kursiku. Lalu, di belakang kursi besar yang kududuki ini ada sebuah piano besar.

Ruangan ini masih terasa gelap meski memiliki jendela-jendela yang besar dan cahaya yang masuk melimpah pun ruah. Dari luar jendela terdengar suara gelak tawa anak-anak yang sedang bermain. Ingin sekali aku beranjak dari kursi dan melihat keluar, tapi aku tak mampu menggerakkan seujung jari pun. Seolah badanku terikat ke kursi ini dengan belenggu tak kasat mata membuatku sesak dan sulit bernapas.

Suara langkah kaki terdengar. Aku mengenali langkah itu. Langkah yang selalu membawa cahaya dan kegembiraan. Ia berlari kesini. Pintu yang berada di dinding sebelah kananku terbuka. Seraut wajah menyembul masuk. Senyum riang tersungging di wajahnya, matanya yang coklat berbinar cerah. Ia masuk kedalam ruangan dan menghampiri kursi tempatku duduk. Ia mengamit tanganku. Seketika itu ruangan menjadi terang, disinari cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar yang ada. Belenggu tak kasat mata yang mengikatku pada kursi pun terlepas begitu saja, aku pun bisa bernapas dengan lega.

Anak itu menarik tanganku, aku berlari kecil mengikuti langkahnya. Keluar dari ruangan, menyusuri koridor rumah, menuju pintu yang mengarah ke pekarangan samping. Saat berlari menyusuri koridor, mataku sempat menangkap sebuah pigura besar. Pigura itu menghiasi foto keluarga, aku, suamiku, dan kedua anak suamiku.

Ya. Anak ini adalah anak kedua suamiku dari istrinya yang terdahulu. Sebelumnya aku hanyalah seorang anak kepala sekolah dari kota kecil yang sedang menjadi guru magang. Kala itu suamiku berkunjung ke kota kecil tempatku tinggal dan kami berpapasan di jalan. Aku tidak menyangka jika setelah itu ia mencari tahu mengenai diriku dan segera datang melamar pada orangtuaku. Saat itu aku tidak sedang berhubungan dengan siapapun, jadi kuterima pinangan itu, kupikir aku bisa mencintai suamiku suatu saat nanti.

Tapi rupanya harapanku tidak akan terjadi. Semakin lama aku tinggal di rumah ini, aku semakin tertekan. Yang dapat menjadi pelipur hatiku hanyalah kedua anak dari suamiku. Mereka anak-anak yang manis dan baik hati, meski demikian mereka sulit merasakan kebebasan. Ayah mereka melarang mereka keluar dari lingkungan rumah ini, bahkan untuk bersekolah sekalipun. Guru privat pun dipanggil untuk mengajar mereka.

Aku yang ingin menjadi guru tergelitik untuk mengajar mereka. Kuminta pada suamiku untuk membagi jam belajar mereka antara guru privat dan diriku, dan ia mengizinkan. Kami sering belajar di ruangan tempatku duduk tadi. James yang berumur 15 tahun akan memainkan piano setelah kami selesai belajar sementara adiknya Scott yang berumur 12 tahun dan aku akan mendengarkan permainannya sambil membaca buku. Begitu pula sore ini setelah kami bermain di pekarangan, kami belajar di ruangan itu.

Aku menyukai ruangan itu, meski aku tidak suka dengan kursi besar yang ada di ruangan. Menurut James dan Scott kursi itu adalah kursi kesayangan ibu mereka. Aku adalah orang pertama yang diizinkan ayah mereka untuk menduduki kursi itu. Mungkin lebih tepatnya aku dipaksa untuk duduk di kursi itu. Sepertinya ia masih mencari-cari istrinya yang sudah meninggalkan dunia ini. Tapi semakin lama ia memandangku, semakin terlihat perbedaan kami. Dan hal itu sering membuatnya marah.

Aku memandang James yang sedang bermain piano, kemudian kualihkan pandanganku pada Scott yang berbaring telungkup sambil membaca buku di sampingku, lalu kualihkan pandanganku pada buku yang sedang kubaca. Aku sangat menikmati saat-saat ini, bersama dua pria kecilku, yang lebih sering kuanggap sebagai adik karena usia kami yang tidak jauh.

No comments:

Post a Comment