Eliza
mengetukkan jari telunjuknya ke lengan sofa dalam jeda yang beragam, terkadang cepat terkadang melambat. Menunggu tanpa kepastian
atau kabar bukanlah hal yang menyenangkan bagi kebanyakan orang, termasuk
dirinya. Ia mencemaskan keadaan sahabatnya yang sedari tadi menghilang, namun
ia berusaha bersikap tenang agar dapat berpikir dengan jernih. Eliza lalu
mengalihkan perhatiannya pada Cecil yang sedang mengamati beberapa lukisan yang tergantung di dinding.
Beberapa
saat yang lalu, seperti Eliza, Cecil duduk dengan cemas menunggu
teman-temannya. Karena tidak tahan dengan suasana muram, ia pun mengalihkan
perhatiannya pada lukisan-lukisan yang tergantung di dinding ruangan. Ada
sebuah lukisan yang menarik perhatiannya. Lama ia memandangi lukisan itu.
“Hei,
Eliza!”