Tuesday, 27 May 2014

Waltz in Dream #prologue

Musim Semi 1953

Kuletakkan tas sekolah di atas meja belajar di kamarku. Aku merogoh saku dan mengeluarkan sebuah jam saku berwarna perak. Kubuka jam saku itu, jarum jamnya masih bergerak. Kucium jam saku perak itu dengan penuh rasa sayang dan kerinduan. Berharap perasaan ini sampai pada orang yang memberikan jam saku itu padaku.

Krekk! Pintu kamar terbuka. Jade teman sekamarku masuk. Ia melempar tas sekolah miliknya ke atas kasur dan menarik tanganku.

“Ayo! Mereka bilang Nathan kembali!” ucap Jade bersemangat.

“Nathan?” aku bingung dengan apa yang ia ucapkan.

“Oh ya ampun! Kamu pasti tidak memperhatikan yang kuceritakan semalam. Nathanael Millford kembali,” ucap Jade bersemangat.

“Siapa?”

Jade menghela napas.

“Sudahlah. Ayo ikut!”

Jade menarik tanganku pergi keluar. Jam saku yang ada di tanganku tergelincir dan jatuh. Sontak aku berhenti menahan tarikan Jade.

“Ada apa?” tanya Jade yang kaget karena aku tiba-tiba berhenti.

Aku segera mengambil jam saku itu dan memeriksanya. Aku takut ada bagian jam itu yang rusak. Setelah kuperiksa, jam itu masih berfungsi, hanya bagian luarnya saja yang sedikit tergores. Aku menghela napas lega. Syukurlah ternyata tidak ada yang rusak.

“Kamu masih menyimpan jam itu?”

Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan Jade.

“Ayo!” kataku sambil beranjak keluar ruangan.

Jade dengan bersemangat menjajari langkahku. Aku hanya tertawa dalam hati.

Perkenalkan, namaku Amber Davenport, umur 16 tahun. Sudah setengah tahun ini aku bersekolah di sebuah sekolah swasta dengan sistem asrama. Jade Allistor adalah teman sekamarku. Ia seorang gadis yang energik dan bersemangat. Kau takkan pernah bosan bersamanya.

Aku akan menceritakan sebuah kisah. Kisah yang tidak semua orang mempercayainya. Saat itu menjelang musim dingin, ketika aku pindah ke sekolah ini. Memang bukan waktu yang tepat untuk pindah sekolah. Tapi kepindahan orangtuaku keluar negeri membuatku harus pindah ke sekolah yang memiliki sitem asrama. Orang tuaku mengatakan bahwa aku tidak perlu ikut dengan mereka karena mereka hanya berada di luar negeri selama dua tahun. Daripada menyesuaikan diri dengan lingkungan yang benar-benar asing, mereka menawarkan agar aku pindah ke sekolah yang menggunakan sistem asrama.

Ketika aku datang ke sekolah ini, aku langsung jatuh cinta dengan tempat ini. Tanah sekolah ini luas dan dipenuhi dengan taman. Membuatku tidak sabar menunggu musim semi tiba. Sekolah ini memiliki beberapa bangunan. Bangunan utamanya yang besar digunakan sebagai tempat belajar dan mengajar menghadap ke gerbang utama. Sementara masing-masing asrama putra dan putri terletak di sebelah kanan dan kiri bangunan utama. Jaraknya dengan bangunan utama kurang lebih 500 meter. Di bagian belakang terdapat sebuah danau kecil yang dikelilingi pepohonan. Disanalah aku bertemu dengannya pertama kali, 6 bulan yang lalu, seorang pemuda berambut coklat bermata biru laut.

No comments:

Post a Comment