Musim Semi 1953
Kuletakkan tas sekolah di atas meja belajar di kamarku. Aku merogoh saku dan mengeluarkan sebuah jam saku berwarna perak. Kubuka jam saku itu, jarum jamnya masih bergerak. Kucium jam saku perak itu dengan penuh rasa sayang dan kerinduan. Berharap perasaan ini sampai pada orang yang memberikan jam saku itu padaku.
Kuletakkan tas sekolah di atas meja belajar di kamarku. Aku merogoh saku dan mengeluarkan sebuah jam saku berwarna perak. Kubuka jam saku itu, jarum jamnya masih bergerak. Kucium jam saku perak itu dengan penuh rasa sayang dan kerinduan. Berharap perasaan ini sampai pada orang yang memberikan jam saku itu padaku.
Krekk! Pintu kamar
terbuka. Jade teman sekamarku masuk. Ia melempar tas sekolah miliknya ke atas
kasur dan menarik tanganku.
“Ayo!
Mereka bilang Nathan kembali!” ucap Jade bersemangat.
“Nathan?”
aku bingung dengan apa yang ia ucapkan.
“Oh
ya ampun! Kamu pasti tidak memperhatikan yang kuceritakan semalam. Nathanael
Millford kembali,” ucap Jade bersemangat.
“Siapa?”
Jade
menghela napas.
“Sudahlah.
Ayo ikut!”
Jade
menarik tanganku pergi keluar. Jam saku yang ada di tanganku tergelincir dan
jatuh. Sontak aku berhenti menahan tarikan Jade.
“Ada
apa?” tanya Jade yang kaget karena aku tiba-tiba berhenti.
Aku
segera mengambil jam saku itu dan memeriksanya. Aku takut ada bagian jam itu
yang rusak. Setelah kuperiksa, jam itu masih berfungsi, hanya bagian luarnya
saja yang sedikit tergores. Aku menghela napas lega. Syukurlah ternyata tidak
ada yang rusak.
“Kamu
masih menyimpan jam itu?”
Aku
hanya tersenyum mendengar pertanyaan Jade.
“Ayo!”
kataku sambil beranjak keluar ruangan.
Jade
dengan bersemangat menjajari langkahku. Aku hanya tertawa dalam hati.
Perkenalkan,
namaku Amber Davenport, umur 16 tahun. Sudah setengah tahun ini aku bersekolah
di sebuah sekolah swasta dengan sistem asrama. Jade Allistor adalah teman
sekamarku. Ia seorang gadis yang energik dan bersemangat. Kau takkan pernah
bosan bersamanya.
Aku
akan menceritakan sebuah kisah. Kisah yang tidak semua orang mempercayainya.
Saat itu menjelang musim dingin, ketika aku pindah ke sekolah ini. Memang bukan
waktu yang tepat untuk pindah sekolah. Tapi kepindahan orangtuaku keluar negeri
membuatku harus pindah ke sekolah yang memiliki sitem asrama. Orang tuaku
mengatakan bahwa aku tidak perlu ikut dengan mereka karena mereka hanya berada
di luar negeri selama dua tahun. Daripada menyesuaikan diri dengan lingkungan
yang benar-benar asing, mereka menawarkan agar aku pindah ke sekolah yang
menggunakan sistem asrama.
Ketika
aku datang ke sekolah ini, aku langsung jatuh cinta dengan tempat ini. Tanah
sekolah ini luas dan dipenuhi dengan taman. Membuatku tidak sabar menunggu
musim semi tiba. Sekolah ini memiliki beberapa bangunan. Bangunan utamanya yang
besar digunakan sebagai tempat belajar dan mengajar menghadap ke gerbang utama.
Sementara masing-masing asrama putra dan putri terletak di sebelah kanan dan
kiri bangunan utama. Jaraknya dengan bangunan utama kurang lebih 500 meter. Di
bagian belakang terdapat sebuah danau kecil yang dikelilingi pepohonan.
Disanalah aku bertemu dengannya pertama kali, 6 bulan yang lalu, seorang pemuda
berambut coklat bermata biru laut.
No comments:
Post a Comment