Eliza
mengetukkan jari telunjuknya ke lengan sofa dalam jeda yang beragam, terkadang cepat terkadang melambat. Menunggu tanpa kepastian
atau kabar bukanlah hal yang menyenangkan bagi kebanyakan orang, termasuk
dirinya. Ia mencemaskan keadaan sahabatnya yang sedari tadi menghilang, namun
ia berusaha bersikap tenang agar dapat berpikir dengan jernih. Eliza lalu
mengalihkan perhatiannya pada Cecil yang sedang mengamati beberapa lukisan yang tergantung di dinding.
Beberapa
saat yang lalu, seperti Eliza, Cecil duduk dengan cemas menunggu
teman-temannya. Karena tidak tahan dengan suasana muram, ia pun mengalihkan
perhatiannya pada lukisan-lukisan yang tergantung di dinding ruangan. Ada
sebuah lukisan yang menarik perhatiannya. Lama ia memandangi lukisan itu.
“Hei,
Eliza!”
“Shirley,”
gumam Eliza sebelum berlari menghampiri rombongan itu dan menggantikan Pak
Morrison memapah Shirley.
Cecil
masih mematung kebingungan memandang rombongan itu. Saat ia menatap Frank yang
menggendong seseorang di punggungnya, tiba-tiba saja otaknya kembali bekerja.
Jika gadis yang kini dipapah Eliza dan Linda adalah Shirley, itu artinya yang
digendong Frank adalah Arthur.
Dengan
cepat ia membalikkan badan dan kembali ke ruangan duduk, ia menghampiri kedua
kursi panjang yang ada dan menata bantal-bantal kursi di salah satu ujung
keduanya. Eliza dan Linda yang menyusul masuk kemudian merebahkan Shirley di
salah satu kursi panjang, sementara Frank menuju kursi panjang yang lain.
“Apa
yang terjadi?” tanya Cecil setelah ia membantu Frank merebahkan Arthur di kursi
panjang.
“Entahlah.
Sepertinya barang-barang di rak terjatuh dan Arthur melindungi Shirley,” jawab
Frank.
“Apa
mereka terluka?” tanya Cecil lagi.
“Sepertinya
tidak. Aku tak menemukan luka apapun, tapi sepertinya kepala mereka terbentur
dan membuat mereka tak sadarkan diri,” ucap Frank.
Cecil
dan Eliza yang sedari tadi menunggu kini cukup lega. Cecil kemudian dengan
iseng mencubit pipi Arthur.
“Cepatlah
sadar,” ucap Cecil. Tiba-tiba gadis itu teringat sesuatu. “Oh ya, Pak Morrison.
Ada yang ingin kutanyakan,”
“Ya?”
tanya pak Morrison.
“Mengenai
lukisan itu,” Cecil menunjuk salah satu lukisan yang ia amati sebelumnya.
Pak
Morrison memandang lukisan yang dimaksud Cecil. Ia mendesah kemudian berjalan
mendekati lukisan tersebut. Cecil mengikutinya dan berdiri di sampingnya. Eliza
yang sebelumnya sempat tertarik karena Cecil lama mengamati lukisan itu pun
ikut beranjak mendekati lukisan, sementara Linda dan Arthur hanya mengamati
dari tempat mereka. Di dalam lukisan itu terdapat gambar seorang pria berusia
empat puluhan dan seorang gadis berusia dua puluhan duduk di kursi, kemudian di
kanan kiri mereka berdiri dua remaja pria.
“Ini
adalah lukisan keluarga bangsawan yang dulu memiliki rumah ini,” Pak Morrison
terdiam sesaat. Ia terlihat seperti mengambil cerita yang sudah lama terkubur
dalam ingatannya. Setelah jeda sejenak, ia pun memulai ceritanya.
No comments:
Post a Comment