Saturday, 31 May 2014

Life Circle #part 7

Eliza mengetukkan jari telunjuknya ke lengan sofa dalam jeda yang beragam, terkadang cepat terkadang melambat. Menunggu tanpa kepastian atau kabar bukanlah hal yang menyenangkan bagi kebanyakan orang, termasuk dirinya. Ia mencemaskan keadaan sahabatnya yang sedari tadi menghilang, namun ia berusaha bersikap tenang agar dapat berpikir dengan jernih. Eliza lalu mengalihkan perhatiannya pada Cecil yang sedang mengamati  beberapa lukisan yang tergantung di dinding.

Beberapa saat yang lalu, seperti Eliza, Cecil duduk dengan cemas menunggu teman-temannya. Karena tidak tahan dengan suasana muram, ia pun mengalihkan perhatiannya pada lukisan-lukisan yang tergantung di dinding ruangan. Ada sebuah lukisan yang menarik perhatiannya. Lama ia memandangi lukisan itu.

“Hei, Eliza!”

Cecil mengalihkan pandangannya dari lukisan dan memanggil Eliza. Namun Eliza tengah berdiri memunggunginya di ambang pintu, memandang ke luar ruangan. Cecil menelan pertanyannya dan menghampiri Eliza. Sesaat setelah Cecil ikut berdiri di samping Eliza, terlihat Pak Morrison dan Linda muncul dari koridor sambil memapah seorang gadis. Di belakang mereka Frank mengikuti sambil menggendong seseorang di punggungnya.

“Shirley,” gumam Eliza sebelum berlari menghampiri rombongan itu dan menggantikan Pak Morrison memapah Shirley.

Cecil masih mematung kebingungan memandang rombongan itu. Saat ia menatap Frank yang menggendong seseorang di punggungnya, tiba-tiba saja otaknya kembali bekerja. Jika gadis yang kini dipapah Eliza dan Linda adalah Shirley, itu artinya yang digendong Frank adalah Arthur.

Dengan cepat ia membalikkan badan dan kembali ke ruangan duduk, ia menghampiri kedua kursi panjang yang ada dan menata bantal-bantal kursi di salah satu ujung keduanya. Eliza dan Linda yang menyusul masuk kemudian merebahkan Shirley di salah satu kursi panjang, sementara Frank menuju kursi panjang yang lain.

“Apa yang terjadi?” tanya Cecil setelah ia membantu Frank merebahkan Arthur di kursi panjang.

“Entahlah. Sepertinya barang-barang di rak terjatuh dan Arthur melindungi Shirley,” jawab Frank.

“Apa mereka terluka?” tanya Cecil lagi.

“Sepertinya tidak. Aku tak menemukan luka apapun, tapi sepertinya kepala mereka terbentur dan membuat mereka tak sadarkan diri,” ucap Frank.

Cecil dan Eliza yang sedari tadi menunggu kini cukup lega. Cecil kemudian dengan iseng mencubit pipi Arthur.

“Cepatlah sadar,” ucap Cecil. Tiba-tiba gadis itu teringat sesuatu. “Oh ya, Pak Morrison. Ada yang ingin kutanyakan,”

“Ya?” tanya pak Morrison.

“Mengenai lukisan itu,” Cecil menunjuk salah satu lukisan yang ia amati sebelumnya.

Pak Morrison memandang lukisan yang dimaksud Cecil. Ia mendesah kemudian berjalan mendekati lukisan tersebut. Cecil mengikutinya dan berdiri di sampingnya. Eliza yang sebelumnya sempat tertarik karena Cecil lama mengamati lukisan itu pun ikut beranjak mendekati lukisan, sementara Linda dan Arthur hanya mengamati dari tempat mereka. Di dalam lukisan itu terdapat gambar seorang pria berusia empat puluhan dan seorang gadis berusia dua puluhan duduk di kursi, kemudian di kanan kiri mereka berdiri dua remaja pria.

“Ini adalah lukisan keluarga bangsawan yang dulu memiliki rumah ini,” Pak Morrison terdiam sesaat. Ia terlihat seperti mengambil cerita yang sudah lama terkubur dalam ingatannya. Setelah jeda sejenak, ia pun memulai ceritanya.

No comments:

Post a Comment