Friday, 16 May 2014

Life Circle #part 6

Anne
Suamiku pulang menjelang sore. Setelah semalam ia tidak pulang aku merasa sedikit segar karena bebas dari rasa tegang ketika berhadapan dengan suamiku. Aku menyambutnya seperti biasa, namun ia tak mengucapkan sepatah kata pun, sepertinya ada yang sedang ia pikirkan. Setelah itu suamiku masuk ke ruang kerjanya dan mengurung diri disana. Ia tidak mengizinkan siapapun masuk kecuali kepala rumah tangga kami dan pelayan yang membawakan teh untuknya.

Tak lama kemudian kepala rumah tangga memberitahu bahwa suamiku memanggilku, Scott dan James ke ruang kerjanya. Ketika kami masuk ke dalam ruang kerja, kami melihat ruangan itu habis terkena amukan amarahnya. Berkas-berkas berserakan di sekitar meja kerjanya, teh yang disuguhkan padanya menggenangi lantai beserta pecahan cangkir dan poci teh. Ia terlihat murka, matanya memicing tajam dan wajahnya memerah, tapi ia belum mengatakan apapun. Rasa takut menjalariku.

Para pelayan di rumah ini satu persatu masuk ke dalam ruang kerja, mereka berdiri berjejer mengelilingi ruangan. Aku memperhatikan mereka dengan bingung. Kemudian pintu ruangan ditutup. Dua pelayan wanita maju dan memegangiku, sementara James dan Scott masing-masing dipegangi oleh dua pelayan pria. Suamiku beranjak dan meja kerja dan berdiri di tengah ruangan.

Ia menyuruh dua pelayan yang memegangi Scott untuk membawa Scott ke hadapannya. Ia mengatakan bahwa Scott lancang karena telah mencium rambutku ketika aku tertidur di balkon semalam. Aku terperanjat mendengar apa yang dikatakan suamiku. Kemudian ia mulai memukuli Scott.

James berusaha memberontak dari pelayan-pelayan yang memeganginya. Ia berteriak pada ayahnya untuk berhenti memukul Scott. Sementara aku hanya dapat memandang ngeri melihat kejadian di hadapanku. Tubuh 12 tahun Scott terlihat terombang-ambing karena pukulan-pukulan yang diterimanya.

Ia berhenti memukuli Scott setelah puas. Scott tergeletak tak berdaya dengan badan tertelungkup. Ia mengalihkan pandangan padaku, kemudian berjalan ke arahku. Ia berdiri di depanku dan memerintahkan pelayan yang memegangiku melepasku. Aku bergidik ketika tangan yang digunakannya untuk memukuli Scott membelai pipiku. Matanya memandangku, tapi aku tahu bukan aku yang dipandanginya melainkan istrinya yang sudah meninggal.

Aku hampir terlonjak mendengar suara Scott. Dengan tubuh yang babak belur ia masih berkata pada ayahnya agar melepaskanku, bahwa ibunya telah tiada dan ayahnya tidak akan bisa menemukannya pada diriku. Mendengar Scott berkata demikian, ayahnya kembali berbalik padanya. Aku panik, terlintas di pikiranku ia akan memukuli Scott lagi. Lalu entah kudapatkan keberanian darimana, aku berlari menyusulnya dan berdiri dihadapannya, berusaha melindungi Scott.

No comments:

Post a Comment