Anne
Para pelayan di rumah ini satu persatu masuk ke dalam ruang kerja, mereka berdiri berjejer mengelilingi ruangan. Aku memperhatikan mereka dengan bingung. Kemudian pintu ruangan ditutup. Dua pelayan wanita maju dan memegangiku, sementara James dan Scott masing-masing dipegangi oleh dua pelayan pria. Suamiku beranjak dan meja kerja dan berdiri di tengah ruangan.
Suamiku
pulang menjelang sore. Setelah semalam ia tidak pulang aku merasa sedikit segar
karena bebas dari rasa tegang ketika berhadapan dengan suamiku. Aku
menyambutnya seperti biasa, namun ia tak mengucapkan sepatah kata pun,
sepertinya ada yang sedang ia pikirkan. Setelah itu suamiku masuk ke ruang kerjanya
dan mengurung diri disana. Ia tidak mengizinkan siapapun masuk kecuali kepala
rumah tangga kami dan pelayan yang membawakan teh untuknya.
Tak
lama kemudian kepala rumah tangga memberitahu bahwa suamiku memanggilku, Scott
dan James ke ruang kerjanya. Ketika kami masuk ke dalam ruang kerja, kami
melihat ruangan itu habis terkena amukan amarahnya. Berkas-berkas berserakan di
sekitar meja kerjanya, teh yang disuguhkan padanya menggenangi lantai beserta
pecahan cangkir dan poci teh. Ia terlihat murka, matanya memicing tajam dan
wajahnya memerah, tapi ia belum mengatakan apapun. Rasa takut menjalariku.
Para pelayan di rumah ini satu persatu masuk ke dalam ruang kerja, mereka berdiri berjejer mengelilingi ruangan. Aku memperhatikan mereka dengan bingung. Kemudian pintu ruangan ditutup. Dua pelayan wanita maju dan memegangiku, sementara James dan Scott masing-masing dipegangi oleh dua pelayan pria. Suamiku beranjak dan meja kerja dan berdiri di tengah ruangan.
Ia
menyuruh dua pelayan yang memegangi Scott untuk membawa Scott ke hadapannya. Ia
mengatakan bahwa Scott lancang karena telah mencium rambutku ketika aku
tertidur di balkon semalam. Aku terperanjat mendengar apa yang dikatakan
suamiku. Kemudian ia mulai memukuli Scott.
James
berusaha memberontak dari pelayan-pelayan yang memeganginya. Ia berteriak pada
ayahnya untuk berhenti memukul Scott. Sementara aku hanya dapat memandang ngeri
melihat kejadian di hadapanku. Tubuh 12 tahun Scott terlihat terombang-ambing
karena pukulan-pukulan yang diterimanya.
Ia
berhenti memukuli Scott setelah puas. Scott tergeletak tak berdaya dengan badan
tertelungkup. Ia mengalihkan pandangan padaku, kemudian berjalan ke arahku. Ia
berdiri di depanku dan memerintahkan pelayan yang memegangiku melepasku. Aku
bergidik ketika tangan yang digunakannya untuk memukuli Scott membelai pipiku.
Matanya memandangku, tapi aku tahu bukan aku yang dipandanginya melainkan
istrinya yang sudah meninggal.
Aku
hampir terlonjak mendengar suara Scott. Dengan tubuh yang babak belur ia masih
berkata pada ayahnya agar melepaskanku, bahwa ibunya telah tiada dan ayahnya
tidak akan bisa menemukannya pada diriku. Mendengar Scott berkata demikian,
ayahnya kembali berbalik padanya. Aku panik, terlintas di pikiranku ia akan
memukuli Scott lagi. Lalu entah kudapatkan keberanian darimana, aku berlari
menyusulnya dan berdiri dihadapannya, berusaha melindungi Scott.
No comments:
Post a Comment