Anne
Suamiku
pulang menjelang sore. Setelah semalam ia tidak pulang aku merasa sedikit segar
karena bebas dari rasa tegang ketika berhadapan dengan suamiku. Aku
menyambutnya seperti biasa, namun ia tak mengucapkan sepatah kata pun,
sepertinya ada yang sedang ia pikirkan. Setelah itu suamiku masuk ke ruang kerjanya
dan mengurung diri disana. Ia tidak mengizinkan siapapun masuk kecuali kepala
rumah tangga kami dan pelayan yang membawakan teh untuknya.
Tak
lama kemudian kepala rumah tangga memberitahu bahwa suamiku memanggilku, Scott
dan James ke ruang kerjanya. Ketika kami masuk ke dalam ruang kerja, kami
melihat ruangan itu habis terkena amukan amarahnya. Berkas-berkas berserakan di
sekitar meja kerjanya, teh yang disuguhkan padanya menggenangi lantai beserta
pecahan cangkir dan poci teh. Ia terlihat murka, matanya memicing tajam dan
wajahnya memerah, tapi ia belum mengatakan apapun. Rasa takut menjalariku.